Fahira: Semoga Pembelaan Hakim Jadi Pertimbangan Sidang Buni Yani

4
256
fahira idris
Fahira Idris, anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) asal Jakarta

JAKARTA – Dalam sidang vonis kasus penodaan agama yang digelar di auditorium Kementan, Jl. RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan, Selasa (9/5/2017), Majelis hakim menyatakan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) terbukti bersalah melakukan tindakan pidana penodaan agama. Hakim memvonis Ahok dua tahun penjara dan memerintahkan Ahok langsung ditahan.

Anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Fahira Idris berharap pernyataan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara, yang secara tegas menolak pendapat Jaksa Penuntut Umum dan Terdakwa Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) serta penasihat hukumnya yang menuduh Buni Yani sebagai biang keresahan dan kegaduhan di masyarakat akibat mengunggah pidato Ahok yang menyinggung Al-Quran di Kepuluan Seribu, dapat menjadi pertimbangan utama hakim dalam mengadili perkara Buni Yani yang akan digelar tidak lama lagi.

“Pernyataan hakim dan vonis hari ini membuat sangkaan kepada Buni Yani yaitu pencemaran nama baik dan penghasutan yang berbau SARA dengan ancaman hukuman maksimal 6 tahun, tidak relevan lagi. Namun, karena proses ini sudah berjalan, biarlah nanti hakim yang memutuskan. Dan saya yakin pembelaan majelis hakim kepada Buni Yani pada sidang hari ini akan menjadi pertimbangan hakim yang akan mengadili Buni Yani nanti. Mudah-mudahan, Buni Yani akan bertemu dengan keadilan,” ujar Senator Jakarta Fahira Idris kepada SERUJI, Selasa (9/5).

Fahira mengungkapkan, fakta lain dari persidangan hari ini yang dapat dijadikan pertimbangan kuat Majelis Hakim yang nanti akan mengadili Buni Yani adalah pernyataan Majelis Hakim Pengadilan Negeri Jakarta Utara yang menyatakan bahwa yang menimbulkan keresahan di masyarakat adalah pidato Ahok yang diunggah Pemprov DKI Jakarta, bukan yang diunggah oleh Buni Yani.

“Yang buat masyarakat resah itu adalah ucapan Ahok yang diunggah Pemprov DKI Jakarta ke Youtube, bukan karena unggahan Buni Yani. Jadi tuduhan Buni Yani menghasut, patah dengan sendirinya. Tuduhan mencemarkan nama baik Ahok juga terbantah, karena yang bersangkutan sudah diputuskan pengadilan bersalah karena menodai agama,” jelas Wakil Ketua Komite III DPD ini.

Sebagaimana diketahui, saat ini Buni Yani sedang menunggu jadwal persidangan karena oleh Polisi dan Jaksa dianggap telah melanggar Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan ancaman pidana maksimal enam tahun penjara atau denda paling banyak Rp 1 miliar, lantaran telah mengunggah video pidato Ahok yang menyinggung Al-Maidah 51 di akun facebook-nya.

 

EDITOR: Iwan Y

4 KOMENTAR

    • Masalahnya di negara ini kan bukan semestinya tapi semau penguasa. Semoga penguasa zalim ini secepatnya dihinakan oleh Yang Maha Menghinakan. Aamiin Allahuma Aamiin.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU