Di Sidang Ahok, Wakil Rois Aam PBNU Menyebut yang Memilih Pemimpin Non Muslim itu Sesat

645

JAKARTA –  KH Miftahul Ahyar sebagai Wakil Rois Aam di PBNU menegaskan, bahwa Al-Maidah ayat 51 adalah jelas berkaitan langsung dengan larangan memilih pemimpin non muslim. Termasuk di antaranya dari Yahudi dan Nasrani.

“Bagi mereka yang melakukan itu ada di jalan yang sesat dan terancam. Ini sesuai dengan berbagai beberapa ayat Ali Imran, An Nisa, dan sebagainya yang separalel atau semakna dengan Al-Maidah 51,” ujar KH Miftahul Ahyar saat ditanya Majelis Hakim dalam sidang lanjutan atau sidang ke-11 Ahok digelar di Auditorium Kementerian Pertanian (Kementan), Jalan RM Harsono, Jakarta Selatan, Selasa (21/2/2017).

KH Miftahul menjabat sebagai Wakil Rois Aam di PBNU.  “Saya diberi tugas oleh PBNU untuk menjadi ahli,” kata Miftahul.

Hakim bertanya pemimpin seperti apa yang dimaksud dalam ayat tersebut. Miftahul menjelaskan bahwa termasuk pemimpin agama dan dunia.

“Jadi maksud pemimpin ya yang memimpin agama dan dunia,” tutur Miftahul.

Ditanya mengenai asal ayat tersebut, Miftahul menyebut salah satunya karena ada sahabat Nabi Muhammad SAW yang merasa dikhianati dan kemudian memilih memisahkan diri.

“Ada salah satu sahabat yang merasa terkhianati, yang sedang ada masalah, ingin melepaskan. Itu dari sekian sebab,” jelas Miftahul.

Tiga ahli akan memberikan keterangannya dalam lanjutan sidang dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Ahli pertama yang dihadirkan adalah ahli agama dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yakni Miftahul Ahyar.

Selain Miftahul, dua ahli lainnya yang akan memberikan keterangan adalah ahli agama Yunahar Ilyas dan ahli pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakkir.

EDITOR: Yus Arza

loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama