FOKUS

Anton: Polisi Dengan Mudah Tuduh Makar Sementara Terdakwa Penista Agama Tidak Ditahan

2
180
Brigjen Pol (Purn) Anton Tabah Digdoyo.

JAKARTA – Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Anton Tabah Digdoyo prihatin atas tindakan polisi yang dengan mudah menahan seseorang dengan tuduhan makar. Sementara disisi lain kasus penista agama Islam, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang sangat jelas meresahkan masyarakat dan telah dijadikan tersangka, malah tidak ditahan.

“Kasus penistaan agama drajat keresahan di masyarakat sangat tinggi dan dapat memecah belah NKRI, malah tersangkanya tidak ditahan,” kata Anton di Jakarta, sebagaimana dilansir Republika, hari ini, Senin (3/4).

Hal tersebut disampaikan Anton menyikapi atas ditangkapnya Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath serta empat orang lainnya dengan tuduhan makar. Ia mengatakan sudah kali kedua ini polisi menangkap para tokoh yang mengkritisi pemerintah.

“Saya sedih atas mudahnya aparat menggunakan pasal makar pada tokoh yang mengkritisi pemerintah,” katanya.

Anton menilai tidak sepatutnya aparat kepolisian menangkap Sekjen FUI dengan tuduhan makar, hanya atas dasar laporan dari masyarakat. “Memangnya kasus makar itu delik aduan, koq dasarnya laporan masyarakat?,” ujarnya.

Menurut Purnawirawan Jendral Polisi ini, polisi harus ekstra hati-hati jika menuduh seseorang atau kelompok melakukan kejahatan makar.

“Apalagi kasus-kasus sebelumnya tuduhan makar selalu mentah dan sulit pembuktiaannya,” tegas Anton, merujuk tuduhan makar kepada Sri Bintang Pamungas, Jenderal (pur) Kivlan Zein, Rahmawati Soekarnoputri, Hatataliwang, Ratna Sarumpaet, yang batal diperiksa atas sangkaan makar.

Kok ini tiba-tiba Khaththath dan kawan-kawan dituduh makar,” tanyanya.

Anton menjelaskan, pasal tentang makar sudah cukup jelas di KUHP harus ada empat unsur secara akumulatif tentang perbuatan makar.  Pertama Anton merincikan harus ada rencana makar, kedua ada kekuatan yang akan digunakan untuk makar, ketiga ada alat untuk makar dan ada cara yang digunakan.

Jadi intinya kata Anton perbuatan makar itu sudah ada empat unsur di atas tadi. Unjuk rasa kata Anton berapapun jumlahnya itu bukan dikatakan makar, termasuk menggemakan yel-yel dan mengibarkan spanduk, dan lain-lain dalam aksi.

EDITOR: Harun S

Komentar

BACA JUGA

Menristekdikti: Boleh Eksplorasi Tetapi Jangan Rusak Lingkungan

SOLO, SERUJI.CO.ID - Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia Muhammad Nasir menyatakan kalangan industri boleh mengeksplorasi sumber daya alam tetapi jangan sampai merusak...

Menteri Rini Minta BUMN di Daerah Bersinergi

YOGYAKARTA, SERUJI.CO.ID - Menteri Badan Usaha Milik Negara Rini Soemarno meminta seluruh perwakilan Badan Usaha Milik Negara di daerah dapat meningkatkan sinergi untuk memberikan...

32 Orang Palestina Cedera Dalam Bentrokan Dengan Tentara Israel

KOTA GAZA, SERUJI.CO.ID - Sebanyak 32 orang Palestina cedera dalam bentrokan yang terjadi antara tentara Israel dan demonstran Palestina di Tepi Barat Sungai Jordan dan...

PDIP Jalin Komunikasi Parpol Pengusung Jokowi

DENPASAR, SERUJI.CO.ID - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengatakan partainya akan mulai menjalin komunikasi politik, khususnya dengan partai politik yang sudah menyatakan dukungannya...

Menristekdikti: Universitas Asing Tidak Lemahkan PTS

SOLO, SERUJI.CO.ID - Perguruan tinggi asing yang akan berdiri di Indonesia tidak akan melemahkan perguruan tinggi swasta (PTS) karena keduanya memiliki segmen yang berbeda, kata...
loading...
Screenshot_20180224_173119

PKS Targetkan 5 Kursi di DPRD Pasaman Barat

SIMPANG EMPAT - Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Pasaman Barat menargetkan ada kenaikan perolehan kursi DPRD dari 3 kursi pada Pileg 2014...
IMG_20180224_161218

Muslim M Yatim Maju Ke DPD RI

SIMPANG EMPAT - M Muslim Yatim mencalonkan diri sebagai anggota DPD RI periode 2019–2024 setelah 3 periode duduk sebagai anggota DPRD Prov Sumatera Barat...
KH. Luthfi Bashori

Shalat Tasbih

Dari shahabat Abdullah bin Abbas RA, bahwa Rasulullah SAW mengajari Sayyidina Abbas bin Abdil Mutthalib RA : `Wahai Abbas, Wahai pamanda, maukah engkau aku...