FOKUS

Anton: Polisi Dengan Mudah Tuduh Makar Sementara Terdakwa Penista Agama Tidak Ditahan

2
209
Brigjen Pol (Purn) Anton Tabah Digdoyo.

JAKARTA – Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Anton Tabah Digdoyo prihatin atas tindakan polisi yang dengan mudah menahan seseorang dengan tuduhan makar. Sementara disisi lain kasus penista agama Islam, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang sangat jelas meresahkan masyarakat dan telah dijadikan tersangka, malah tidak ditahan.

“Kasus penistaan agama drajat keresahan di masyarakat sangat tinggi dan dapat memecah belah NKRI, malah tersangkanya tidak ditahan,” kata Anton di Jakarta, sebagaimana dilansir Republika, hari ini, Senin (3/4).

Hal tersebut disampaikan Anton menyikapi atas ditangkapnya Sekjen FUI Muhammad Al-Khaththath serta empat orang lainnya dengan tuduhan makar. Ia mengatakan sudah kali kedua ini polisi menangkap para tokoh yang mengkritisi pemerintah.

“Saya sedih atas mudahnya aparat menggunakan pasal makar pada tokoh yang mengkritisi pemerintah,” katanya.

Anton menilai tidak sepatutnya aparat kepolisian menangkap Sekjen FUI dengan tuduhan makar, hanya atas dasar laporan dari masyarakat. “Memangnya kasus makar itu delik aduan, koq dasarnya laporan masyarakat?,” ujarnya.

Menurut Purnawirawan Jendral Polisi ini, polisi harus ekstra hati-hati jika menuduh seseorang atau kelompok melakukan kejahatan makar.

“Apalagi kasus-kasus sebelumnya tuduhan makar selalu mentah dan sulit pembuktiaannya,” tegas Anton, merujuk tuduhan makar kepada Sri Bintang Pamungas, Jenderal (pur) Kivlan Zein, Rahmawati Soekarnoputri, Hatataliwang, Ratna Sarumpaet, yang batal diperiksa atas sangkaan makar.

Kok ini tiba-tiba Khaththath dan kawan-kawan dituduh makar,” tanyanya.

Anton menjelaskan, pasal tentang makar sudah cukup jelas di KUHP harus ada empat unsur secara akumulatif tentang perbuatan makar.  Pertama Anton merincikan harus ada rencana makar, kedua ada kekuatan yang akan digunakan untuk makar, ketiga ada alat untuk makar dan ada cara yang digunakan.

Jadi intinya kata Anton perbuatan makar itu sudah ada empat unsur di atas tadi. Unjuk rasa kata Anton berapapun jumlahnya itu bukan dikatakan makar, termasuk menggemakan yel-yel dan mengibarkan spanduk, dan lain-lain dalam aksi.

EDITOR: Harun S

loading...

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BACA JUGA

Kemendagri Dukung Ketegasan Kapolri Menjaga Netralitas Polri di Maluku

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kementerian Dalam Negeri menyatakan mendukung ketegasan Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian dalam menjaga netralitas Pilkada di Maluku. "Tentu kami 'respect' dan mendukung atas...

Bantah Karena Ketidaknetralan, Polri Enggan Jelaskan Alasan Mutasi Wakapolda Maluku

JAKARTA, SERUJI.CO.ID - Kadivhumas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto membantah mutasi jabatan Brigjen Pol Hasanuddin sebagai Wakapolda Maluku akibat ketidaknetralan Hasanuddin dalam mengawal pelaksanaan Pemilihan...

Hari Pertama Masuk Kerja, Wali Kota Langsa Pimpin Apel Bersama

KOTA LANGSA, SERUJI.CO.ID  - Hari pertama masuk kerja setelah libur Idul Fitri, Wali Kota Langsa Tgk. Usman Abdullah memimpin apel bersama dalam rangka halal...

Hari Pertama Masuk Kerja, 100 PNS Malah Bolos

MAKASSAR, SERUJI.CO.ID - Sebanyak 100 orang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Lingkup Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar pada hari pertama masuk kerja setelah libur lebaran 2018 dinyatakan absen. "Dari...

Akhirnya Basarnas Temukan Pendaki Gunung Gamalama yang Hilang

TERNATE, SERUJI.CO.ID - Tim Basarnas Ternate, Maluku Utara (Malut), bersama warga Moya akhirnya berhasil menemukan seorang mahasiswi STIKIP Ternate bernama Rahmi Kadis (21 tahun) dinyatakan...