Ahli Hukum Pidana UII: Jelas Ahok Sengaja Menista

149
ahok, basuki tjahaja purnama
Sidang kasus penistaan agama dengan terdakwa Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (Foto: Syahrul Barkah/Seruji)

JAKARTA – Ada tiga kalimat penting yang menjadi fokus ahli hukum pidana dari Universitas Islam Indonesia (UII) Mudzakkir.  Dia memfokuskan pada pidato Ahok di Kepulauan Seribu. Ahli hukum pidana ini dihadirkan jaksa penuntut umum (JPU) pada sidang ke-11 penodaan agama Islam dengan terdakwa Ahok, Selasa (21/2).

“Tiga kalimat yang saya fokuskan. Intinya kalimat paling penting yang Basuki katakan, yaitu ‘jangan percaya sama orang’. Kedua ‘maka kamu enggak pilih saya’. Ketiga ‘dibohongi pakai’ yang kemudian dilanjutkan dengan kata ‘dibodohi’. Tiga kata ini yang saya analisis,” rinci Mudzakkir.

Mudzakkir menjelaskan, dari tiga kalimat tersebut ia menilai Ahok menganggap orang yang menggunakan Al Maidah 51 sebagai alat kebohongan.

“Menurut saya jelas bahwa maksud dan tujuan terkait dengan pemilihan (pilgub) dengan menggunakan kata-kata dibohongin atau kata-kata yang lain dibodohi dan seterusnya itu,” tambah Mudzakkir.

Mudzakkir juga menilai Ahok dengan sengaja menista agama Alquran. “Ya sengaja karena ini ada hubungannya dengan konteks keterpilihannya (dalam Pilgub DKI). Itu yang saya sebut tadi dengan kesengajaan dengan kepastian,” tuturnya.

Soal hukum pidana, Mudzakkir menilai pelaku kejahatan dinilai dari perbuatannya, bukan dengan lingkungannya. “Siapapun yang berbuat, dia bertanggung jawab. Perbuatan kejahatan seperti apa bisa dikonstruksi ada niat atau tidak,” jelasnya.

EDITOR: Rizky

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama