💬 Kata-kata Trump yang Membalikkan Pasar Dunia
Penurunan dramatis dimulai ketika Trump berbicara kepada CBS News sekitar pukul 14.00 ET (Selasa dini hari pukul 03.00 WIB). Trump menyatakan Selat Hormuz kini “sudah terbuka” dan bahwa AS “mempertimbangkan untuk mengambil alihnya”.
Ia juga memperingatkan Iran dengan keras: “Mereka sudah menembakkan semua yang mereka miliki, dan mereka lebih baik tidak mencoba sesuatu yang bodoh — atau itu akan menjadi akhir dari negara itu.” Pernyataan ini memberikan sinyal tegas kepada pasar bahwa AS memiliki kendali penuh atas situasi di Selat — dan bahwa gangguan pasokan bersifat sementara.
Menteri Energi AS Chris Wright menambahkan keyakinan lebih lanjut. Wright kepada CNN menyatakan: “Kita tidak terlalu jauh sebelum Anda akan melihat dimulainya kembali lalu lintas kapal secara lebih reguler melalui Selat Hormuz. Skenario terburuk adalah beberapa minggu, bukan bulan.”
Kalimat “bukan bulan” inilah yang menjadi game-changer bagi kalkulasi trader — karena seluruh risk premium yang dibangun pasar selama sepekan terakhir didasarkan pada asumsi penutupan Selat yang berkepanjangan. Jika ternyata hanya beberapa minggu, maka premium USD40–50 di atas harga fundamental tidak dapat dipertahankan.
Koordinasi G7 menjadi pukulan kedua yang mempertegas penurunan. Menteri energi G7 dijadwalkan menggelar pertemuan virtual Selasa pagi untuk membahas kemungkinan pelepasan cadangan minyak strategis secara terkoordinasi. G7 mengeluarkan pernyataan bersama.
“We stand ready to take necessary measures, including to support global supply of energy such as stockpile release.” Ancaman koordinasi pelepasan cadangan strategis negara-negara G7 — yang totalnya mencapai ratusan juta barel — adalah sinyal langsung kepada pasar bahwa pemerintah-pemerintah besar dunia tidak akan membiarkan harga minyak bertahan di level $110–120 per barel dalam waktu lama.
⚡ Konteks Penting: Turun $30, Tapi Masih Naik $25 dari Sebelum Perang
Di balik euforia penurunan hari ini, ada angka yang perlu diingat. Pada awal 2026, sebelum pecahnya konflik AS-Israel-Iran, WTI diperdagangkan di bawah $60 per barel. Kini, meski sudah turun dari puncak $119, WTI masih berada di $85 — artinya masih naik sekitar 40% dari level sebelum perang dimulai 28 Februari lalu.
Tekanan pada ekonomi global — termasuk APBN Indonesia — belum sepenuhnya mereda. Rystad Energy dalam catatannya memprediksi Brent masih bisa menyentuh $135 jika kondisi berlanjut empat bulan, dan $110 jika berlangsung dua bulan.
