Sempat Naik Tinggi, Harga Minyak Berbalik Arah Anjlok US$30 — Karena Satu Kalimat Trump

Yang juga perlu diperhatikan dengan cermat adalah: Selat Hormuz secara fisik belum benar-benar dibuka. IRGC pada 5 Maret menyatakan hanya kapal dari AS, Israel, dan sekutu Barat yang dilarang melintas — sementara kapal China, kapal berbendera Muslim, dan negara-negara yang tidak berpihak masih bisa melintas.

Jadi pernyataan Trump bahwa selat “sudah terbuka” lebih merupakan sinyal politik dan militer tentang kapabilitas AS untuk memastikan pembukaan, bukan laporan faktual bahwa semua kapal sudah kembali bebas melintas. Pasar merespons niat dan kapabilitas — bukan hanya kondisi di lapangan saat ini.

BlackRock dalam catatan kepada kliennya menyatakan: “Situasinya dinamis, dan risikonya nyata. Namun untuk saat ini kami percaya guncangan ini kemungkinan bersifat jangka pendek.” Lembaga manajemen aset terbesar di dunia itu memperkirakan disrupsi aliran energi global akan berlangsung dalam hitungan minggu, bukan bulan — dan tetap merekomendasikan overweight ekuitas AS dan Jepang.

Goldman Sachs di sisi lain memperingatkan bahwa jika harga minyak tinggi bertahan, inflasi AS bisa naik dari 2,4% ke 3% pada akhir 2026.

🇮🇩 Dampak ke Indonesia: Napas Lega Sementara bagi APBN

Bagi Indonesia, penurunan harga minyak dari $113 ke $85 adalah kabar baik yang disambut dengan napas lega — meski belum bisa disebut sebagai “aman”. Simulasi sensitivitas Kementerian Keuangan menempatkan setiap USD1 kenaikan ICP menghasilkan tambahan defisit Rp6,8 triliun.

Dengan harga minyak turun dari $113 ke $85 — selisih $28 dari puncak — potensi tekanan fiskal berkurang sekitar Rp190 triliun dibandingkan jika harga bertahan di $113. Namun pada $85, rata-rata ICP tahunan masih berisiko jauh di atas asumsi APBN $70/barel — dan defisit masih berpotensi melebihi batas legal 3% dari PDB jika kondisi bertahan sepanjang kuartal kedua 2026.

Rupiah pun diperkirakan mendapat ruang untuk sedikit menguat dari level Rp17.000-an apabila sentimen risk-off global mereda seiring penurunan harga minyak. Namun perlu diingat: minyak turun dari $119 ke $85 bukan karena Selat Hormuz sudah normal — melainkan karena pasar mempercayai pernyataan Trump bahwa normalisasi tinggal “beberapa minggu lagi.”

Jika janji itu tidak terbukti, harga minyak bisa kembali meledak dengan cepat. Analis Azharys Hardian dari KISI mengingatkan bahwa situasi ini masih “sangat fluid” dan investor harus bersiap menghadapi volatilitas dua arah dalam waktu dekat.

Satu hal yang pasti: penurunan minyak hari ini akan menjadi angin segar bagi IHSG pada perdagangan Selasa (10/3/2026) pagi. Dengan minyak yang kembali ke kisaran $85–88, tekanan inflasi global sedikit mereda, dan ada kemungkinan rebound pada saham-saham yang terpukul keras kemarin — terutama sektor perbankan dan konsumer.

Namun pasar akan tetap waspada dan menunggu konfirmasi lebih lanjut dari lapangan: apakah kapal-kapal tanker benar-benar sudah kembali melintas Selat Hormuz secara normal.

Seruji.co.id akan terus memantau perkembangan harga minyak, situasi Selat Hormuz, dan dampaknya terhadap pasar keuangan Indonesia. Pantau kanal Ekonomi & Keuangan kami untuk pembaruan terkini setiap saat.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER