Kodam Cenderawasih Klarifikasi Isu Bom Fosfor di Nduga Papua

JAYAPURA, SERUJI.CO.ID – Komando Daerah Militer (Kodam) XVII/Cenderawasih melakukan klarafikasi atas isu penggunaan bom fosfor oleh pasukan TNI saat melakukan evakuasi terhadap korban pembantaian kelompok separatis dari Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN OPM), yang disebut polisi sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Nduga, Papua.

Dalam konferensi pers di Kantor Penerangan Kodam Cenderawasih, Rabu (26/12), Kepala Penerangan Kodam (Kapendam) XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi, bersama Kepala Peralatan Kodam (Kapaldam) XVII/Cenderawasih Kolonel Cpl Dwi Soemartono menghadirkan beberapa jenis granat yang dipakai TNI saat evakuasi di Nduga.

“Yang beredar fotonya di Facebook dan fotonya yang dibawa saat aksi mahasiswa itu bukan bom melainkan hanya granat. Salah satunya granat asap, digunakan hanya untuk tabir,” ujar Kolonel Cpl Dwi Soemartono sambil menunjukan langsung granat tangan asap (GT-6AS) buatan PT Pindad, Rabu (26/12) siang.

Selain menunjukan granat asap, pihak Kodam Cenderawasih juga menunjukkan granat lontar (Mu Kal 40 MM GLM) yang juga digunakan pada saat evakuasi di Nduga.

“Ini ditembakan dengan senapan pelontar granat, ini senjata standar pasukan infanteri dan bukan bom,” terang Dwi.

Baca juga: Kapendam: Isu Bom Fosfor untuk Memojokkan Indonesia di Mata Internasional

Hal senada juga disampaikan Kapendam XVII/Cenderawasih Kolonel Inf Muhammad Aidi, bahwa granat yang digunakan merupakan senjata standar paling rendah yang artinya penggunaannya legal.

“Yang digembor-gemborkan itu di medsos memang orang tidak mengerti, tidak tahu mana granat, mana bom. Begitu juga bom fosfor, tapi kami sangat maklum pernyataan itu, karena kelompok bersenjata ini memang mereka tak ada pengetahuan tentang senjata,” ujar Aldi.

Selain membantah penggunaam bom fosfor, Aidi juga merasa heran dengan media besar di Australia yang langsung mempercayai penggunaan bom fosfor oleh TNI.

“Yang lebih konyol lagi itu ada media sekaliber internasional di Australia yang percaya hal ini, media itu memberitakan dan anehnya mau dibodoh-bodohi,” kata Aidi.

Baca juga: Kodam Cenderawasih Bantah Penggunaan Bom dan Pesawat Tempur di Nduga

Sementara mengenai isu adanya masyarakat sipil yang tewas, M. Aidi mengatakan semua pihak perlu melihat kenyataan di Nduga Papua.

“Di Nduga informasi yang ada hingga saat ini kurang lebih 70 persen warga tak ada KTP atau catatan kependudukan, jadi kalau ada warga yang mati kita tidak bisa identifikasi apa dia rakyat sipil, atau KKB. Karena KKB ini biasa ikut berbaur dengan masyarakat sipil, bahkan bukan tak mungkin bisa berbaur dengan anggota dewan dan pemerhati HAM dan lainnya,” ungkapnya.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

PT Semen Indonesia: Jebloknya Arus Kas Pasca Akuisisi Super Mahal Holcim

Akuisisi mestinya adalah sesuatu yang positif. Tetapi laporan keuangan terbaru SI berkata lain. Akuisisi justru menurunkan kinerja. Mengapa?

Sambut Konferwil AMSI Jatim, Begini Pesan Kapolda Jawa Timur

"Saya terima kasih teman-teman dari AMSI, mudah-mudahan bisa mengawal suplai berita kepada masyarakat dalam koridor jurnalistik yang tetap menjaga objektifitas. Saya senang sekali bisa audiensi dan bersilaturahmi," kata Irjen Fadil di Mapolda Jatim

Hak Asuh Anak Dalam Perceraian

Retaknya perkawinan yang berujung perceraian sering kali mengakibatkan konflik perebutan hak asuh anak. Dalam artikel kali ini, Ruang Hukum akan menjelaskan tentang hak asuh anak sesuai perundangn yang berlaku dan prosesnya di Pengadilan jika terjadi perselisihan perebutan hak asuh anak. Selamat membaca.....

PR Mendikbud Nadiem: Jadikan Mapel Sejarah Penguat Pendidikan Karakter

Setelah sempat menjadi polemik panas, informasi yang yang menyebutkan mata pelajaran (mapel) Sejarah akan dihapus dari kurikulum sekolah sudah diklarifikasi langsung oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim

Bahagia itu Tidak Bersyarat

Bahagia adalah kata yang tidak asing bagi kita semua. Bahagia merupakan impian semua orang yang hidup di dunia ini. Bahkan tidak hanya di dunia, di Akhirat pun kita mendambakannya. Setiap waktu kita berdoa untuk meraih kebahagian ini, sayang kita tidak pernah belajar bagaimana mencari, menggapai, menemukan kebahagiaan itu.

Diabetes Melitus: Mengingkari Diagnosis Dapat Berakibat Fatal

Bermacam reaksi pasien ketika pertama kali diberitahu bahwa mereka menderita diabetes melitus. Ada pasien yang dapat memerima dengan tenang, memahaminya, ada juga yang kecewa, stress, tidak percaya, marah, tidak menerimanya, atau bahkan mengingkarinya.

Innalillahi, Indonesia Kembali Berduka Mantan Mendiknas Prof Malik Fadjar Wafat

Indonesia kembali kehilangan putra  terbaiknya, hari ini, Senin (7/9), dengan wafatnya Prof Abdul Malik Fadjar, mantan Menteri Pendidikan Nasional (2001-2004).

TERPOPULER