JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Perang antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali memanas. Pada Rabu (25/3/2026), media pemerintah Iran kembali mengklaim pasukan angkatan laut mereka menembakkan rudal ke arah kapal induk USS Abraham Lincoln milik AS yang berpatroli di Laut Arab. Ini bukan klaim pertama, dan dampaknya bagi Indonesia jauh lebih nyata dari yang banyak orang bayangkan.
Rudal Iran Incar Kapal Induk AS, Trump: Semua Gagal
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pertama kali mengklaim menembakkan empat rudal balistik ke USS Abraham Lincoln pada 1 Maret 2026, dalam operasi yang mereka sebut bagian dari “Operasi True Promise 4″—pembalasan atas kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Klaim serupa kembali terdengar pada 25 Maret 2026, ketika kantor berita IRNA mengutip pejabat angkatan laut Iran yang menyebut kapal induk tersebut terus dipantau secara intensif.
Namun Komando Pusat AS (CENTCOM) membantah keras seluruh klaim tersebut.
“Rudal yang diluncurkan Iran tidak mendekati kapal induk tersebut. USS Abraham Lincoln terus meluncurkan pesawat untuk mendukung operasi CENTCOM yang sedang berlangsung,” tegas pernyataan resmi AS.
Presiden Donald Trump bahkan menyebut Iran telah menembakkan sekitar 100 rudal ke arah kapal induk itu, namun semuanya berhasil digagalkan.
“Dari 101 rudal, setiap satu berhasil ditembak jatuh,” kata Trump di Ruang Oval.
Di tengah saling tuding itu, Kepala Angkatan Laut Iran Shahram Irani mempertegas sikap Teheran: pergerakan USS Abraham Lincoln akan terus diawasi. Juru bicara militer Iran bahkan melempar kalimat provokatif kepada Washington: “Seseorang seperti kami tidak akan pernah mencapai kesepakatan dengan seseorang seperti Anda. Tidak sekarang, tidak akan pernah.”
Selat Hormuz: Urat Nadi Energi Dunia yang Kini Tersumbat
Selat Hormuz adalah jalur laut tersempit dengan lebar sekitar 33 kilometer di titik paling kritis, namun menanggung beban sebagai “napas ekonomi dunia”. Sebelum eskalasi konflik 2026, jalur ini dilintasi lebih dari 17 juta barel minyak setiap harinya—setara 20 persen total konsumsi minyak dunia dan 25 persen pasokan gas alam cair (LNG) global.

Sejak Iran mengancam menutup selat pada 2 Maret 2026 dan mempertegas ancaman pada 23 Maret 2026, volume ekspor dari kawasan Teluk terpangkas drastis, dari 25,1 juta barel per hari menjadi hanya 9,7 juta barel.
Badan Energi Internasional (IEA) telah melepas 400 juta barel dari cadangan darurat, namun para analis memperingatkan itu hanya solusi jangka pendek. Harga minyak Brent sempat menyentuh kisaran US$98 per barel, jauh melampaui asumsi APBN 2026 Indonesia yang dipatok US$70 per barel.
