Barusan Pak Arif dari RRI Pro 3, Nasional, mewawancari saya ihwal topik hangat Saracen, jaringan online pembuat konten mengandung SARA. Karena waktu singkat jelang Warta Berita jam 07.00, mungkin premis saya kurang lengkap tersampaikan ke pendengar seluruh tanah air.

Maka saya tuliskan begini:

Ruh dasar komunikasi tak permah berubah dari jaman jebot. Pondasinya tetap; hati nurani, akal, budi. Ketiganya harus terus diasah agar kinclong, melalui jalan iqra, membaca, terutama buku.

Untuk mengahaluskan budi seseorang wajib membaca buku sastera. Kini berapa dari siswa kita kenal Djamaloedin Adinegoro, apalagi tahu dan pernah membaca Melawat ke Barat, buku fenomenon sehingga namanya diabadikan tajuk Pulitzer-nya Indonesia.

BACA JUGA:  Gergaji Angin Jelang Kekuasaan Berakhir

Berapa banyak dari generasi membaca novel klasik Hemingway, Lelaki Tua dan Laut? Siapa yang ingat lagi dengan Harimau Harimau-nya, Mochtar Loebis, siapa pula ngeh kalimat bagus: Kamu harus mengalahkan Harimau yang ada di lubuk hatimu terlebih dahulu. Iqra, perjalanan, bisa menghaluskan budi. Siswa level SMP di Inggris wajib baca Shakespeare.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama