dr. Irsyal Rusad, Sp PD,

dr. Irsyal Rusad, Sp PD, dokter spesialis penyakit dalam yang sudah meniti karier sebagai dokter selama 35 tahun dan masih berlangsung sampai sekarang ini terlahir di sebuah desa kecil Koto Baru, Kubang Putiah, di lereng gunung Merapi, Bukittinggi. Tidak ada bukti tertulis dari pihak yang berwenang mengeluarkan catatan kelahiran tentang kapan beliau terlahir. Beruntung orang tuanya menuliskannya di dinding kamar dengan alat tulis kapur 16 Mei 1954, sehingga oleh beliau dijadikan bukti tertulis tentang tanggal kelahirannya. Beliau anak ke-4 dari 7 bersaudara.

Dokter yang pernah jadi pengasuh rubrik tanya jawab kesehatan di salah satu media mainstream nasional ini menyelesaikan pendidikan Sekolah Rakyat di desa yang sama, Sekolah Menengah Pertama di Ibu Kota Kecamatan, SMP Banuhampu, Padang Lua.

Tamat dari SMP kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menengah Atas (SMA) 2 Bukittinggi yang dulu dikenal juga sebagai Sekolah Raja yang berjarak sekitar 3-4 Km dari kampungnya.

“Jarak sejauh itu saya tempuh dengan berjalan kaki pulang dan pergi. Kadang-kadang agar tidak terlambat saya sering mengambil jalan pintas melalui pematang sawah,” tutur dr. Irsyal mengenang perjuangannya untuk mendapatkan pendidikan kepada SERUJI.

Setelah lulus dari SMA bapak dari 5 orang anak ini rela berpisah jauh dari orang tuanya menuju Yogyakarta, mengikuti test Skalu di Universitas Gadjah Mada. Seleksi pertama ujian tertulis diterima di FK UGM, tapi gagal saat test wawancara. Namun beliau tidak menyerah sampai disitu, pada tahun kedua mengikuti test lagi, dan diterima Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada.

“Saya sebenarnya berminat pada fakultas ekonomi, tapi karena orang tua saya dan kakak saya menginginkan saya jadi dan dokter, saya akhirnya ambil fakultas kedokteran,” ungkap dokter yang suka olahraga jogging dan berenang ini.

Pada tahun 1982 suami dari Laylana Nur ini lulus dan menyandang gelar dokter. Kemudian beliau langsung mendaftar di Depkes dan ditempatkan di Lampung, tapi dokter yang hobi travelling ini baru ke Lampung pada awal tahun 1984.

Di Lampung pertama kali di tempatkan sebagai kepala Puskesmas di Kecamatan Rumbia, Lampung Tengah. Satu bulan di sana, beliau membeli beberapa ekor Sapi Bali, sapi itu kemudian dipelihara oleh staf Puskesmas. Sapi-sapi tersebut beliau rancang untuk investasi masa depannya dan 7 tahun kemudian ketika mau mengambil pendidikan spesialisasi jumlah sapinya sudah berkembang cukup banyak.

“Dari hasil menjual sapi-sapi ini lah yang kemudian ikut membantu biaya hidup dan pendidikan spesialisasi saya,” tutur dr. Irsyal yang disela-sela kesibukannya masih meluangkan waktunya untuk menulis ini.

Tepatnya pada pertengahan tahun 1989, setelah beberapa kali pindah sebagai kepala Puskesmas di Lampung, dokter yang pernah menjadi ketua cabang Muhammadiyah Indragiri Hilir, Riau, ini melanjutkan pendidikan Spesialis Penyakit Dalam di FK UGM. Tahun 1995 brevet Spesialis Penyakit Dalam telah didapatkannya.

Pada tahun 1996 awal dr. Irsyal ditempatkan sebagai dokter Spesialis Penyakit Dalam di Rumah Sakit Daerah Puri Husada, Tembilahan Indragiri Hilir, Riau. Empat tahun kemudian dipercaya sebagai direktur, dan 5 tahun setelah itu diangkat sebagai Kepala Dinas Kesehatan. Tahun 2010 kembali ke fungsional, lalu pada tahun 2014 beliau mengambil pensiun.

Saat menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan, dokter yang senang membaca ini pernah memimpin penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit malaria di wilayah kerjanya, yaitu sekitar tahun 2006, dimana terjadi peningkatan kasus malaria yang tiba-tiba di suatu daerah karena ada galian proyek yang tergenang air.

Sebagai Kepala Dinas Kesehatan, beliau tidak hanya memerintah bawahan tetapi beliau turut serta terjun ke lapangan, ikut melakukan penyuluhan, membagikan bantuan kelambu anti malaria dan mencari tempat berkembang biaknya nyamuk malaria, evakuasi penderita dan pengobatan. Tak lupa juga mengatasi akar masalah dengan mengalirkan genangan air bekas galian proyek yang menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk malaria/nyamuk Anopheles.

Dokter yang menikah di bulan April tahun 1983 ini telah di karuniai 5 orang anak, 4 laki-laki dan 1 perempuan dan juga sudah dikaruniai 6 orang cucu. Empat anaknya mengikuti jejak ayahnya menjadi menjadi dokter, dan 1 orang geologis alumni ITB. Salah satu anak perempuannya yang berprofesi sebagai dokter dan aktif di Mer-C menetap di Kanada beserta 3 orang cucunya.

Sejak pensiun sampai dengan sekarang, dr. Irsyal menetap di Jakarta. Saat ini sebagai dokter Spesialis Penyakit Dalam di RSIA Bunda Aliyah Jakarta Timur, dan juga sebagai Spesialis Penyakit Dalam di RS Awal Bros Bekasi Timur sekaligus sebagai dokter Spesialis Penyakit Dalam penanggung jawab Hemodialisa.

Dokter yang menginginkan dirinya menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain ini selalu berusaha tetap tersenyum kepada pasien meskipun batinnya sedang bersedih

“Tetaplah senyum kepada pasien Anda, mereka juga akan tersenyum untuk Anda”.

DATA PRIBADI
Nama : dr. Irsyal Rusad, SpPD
TTL : Bukittinggi, 16 Mei 1954
Istri : Laylana Nur
Anak : 5 orang ( 4 dokter, 1 geologist)
Menantu : 5 orang
Cucu : 5 orang

RIWAYAT PENDIDIKAN
Sekolah Rakyat (SR) Koto Baru, Kubang Putiah, Bukittinggi, Sumbar
SMP Banuhampu, Padang Lua, Bukittinggi, Sumbar
SMA 2 Bukittinggi, Sumbar
Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM), Yogjakarta
Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) progran studi Penyakit dalam FK UGM, Yogjakarta

RIWATAY PEKERJAAN
Kepala Puskesmas di Kecamatan Rumbia, lampung tengah. Dan sempat beberapa kali pindah dari beberapa Puskesmas di Lampung.
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Rumah Sakit Daerah Puri Husada, Tembilahan Indragiri Hilir, Riau.
Direktur Rumah Sakit Daerah Puri Husada, Tembilahan Indragiri Hilir, Riau.
Kepala Dinas Kesehatan Indragiri Hilir, Riau.
RSIA Bunda Aliyah, Jakarta Timur (sampai dengan sekarang).
RS Awal Bros, Bekasi Timur (sampai dengan sekarang).

RIWAYAT ORGANISASI
Ketua HMI komisariat FK UGM
BEM FK UGM
Ketua cabang Muhammadiah Indragiri Hilir, Riau

dr. Irsyal Rusad, Sp PD, adalah anggota Koperasi (pers) Swamedia Mitra Bangsa dari Pengda Jawa Barat.

 

(dr. Endang S/Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Pribumi vs Non Pribumi

Bendera dan Krisis Kepemimpinan

Menurut vexillology, bendera bukan sekedar selembar kain biasa. Jika dia berkibar bebas di angkasa, bendera menginspirasikan semangat kepemimpinan tertentu yang sublim dan sulit dibayangkan oleh mereka yang jiwanya terjangkar oleh tanah di bumi.

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER