Instruksi Ketiga: Badan Intelijen Strategis (Bais) TNI diperintahkan agar atase pertahanan (athan) RI yang bertugas di negara-negara terdampak konflik segera mendata dan memetakan keberadaan Warga Negara Indonesia (WNI), serta menyiapkan rencana evakuasi bila eskalasi memburuk. Koordinasi dilakukan bersama Kementerian Luar Negeri, KBRI, dan otoritas terkait.
Instruksi Keempat: Kodam Jaya/Jayakarta secara khusus diperintahkan melaksanakan patroli di objek vital strategis, kawasan kedutaan besar negara asing, serta mengantisipasi perkembangan situasi guna menjaga kondusivitas di wilayah DKI Jakarta.
Instruksi Kelima: Seluruh satuan intelijen TNI diperintahkan melaksanakan deteksi dini dan pencegahan dini terhadap potensi kelompok yang dapat mengancam keamanan, khususnya di kawasan objek vital strategis dan kedutaan besar di DKI Jakarta.
Instruksi Keenam: Badan Pelaksana Pusat (Balakpus) melaksanaan siaga di satuan masing-masing.
Instruksi Ketujuh: Laporkan setiap perkembangan situasi yang terjadi kepada Panglima TNI pada kesempatan.
“Telegram ini merupakan perintah,” begitu isi telegram yang didapatkan Republika di Jakarta, Sabtu (7/3/2026).
🏠 Dampak dalam Negeri: Ancaman Nyata yang Harus Diantisipasi
Pertanyaan yang paling relevan bagi rakyat Indonesia adalah: apa hubungan perang di Timur Tengah dengan keamanan dan kesejahteraan di dalam negeri? Ternyata, kaitannya sangat erat dan langsung.
Dari sisi energi, Indonesia mengonsumsi sekitar 1,7 juta barel minyak per hari, sementara produksi dalam negeri hanya mencapai sekitar 860 ribu barel. Artinya, hampir separuh kebutuhan minyak nasional harus dipenuhi melalui impor — dan sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah yang kini menjadi medan perang.
APBN 2026 ditetapkan dengan asumsi harga minyak domestik sebesar 70 dolar AS per barel. Jika harga minyak dunia menetap di kisaran 100 dolar AS atau lebih, beban subsidi energi dan kompensasi listrik yang sudah diperkirakan mencapai Rp381 triliun akan membengkak drastis, menciptakan lubang besar dalam keuangan negara.
Dari sisi ekonomi makro, pelemahan rupiah yang kerap terjadi di tengah krisis global akan langsung memperbesar biaya impor minyak dan bahan baku industri. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita telah mewanti-wanti bahwa konflik ini dapat memicu volatilitas harga energi global, gangguan jalur perdagangan internasional, dan lonjakan biaya logistik yang berdampak pada sektor manufaktur nasional.
Yang tak kalah mengkhawatirkan adalah dimensi sosial-keagamaan. Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Solidaritas terhadap Iran dan keprihatinan atas nasib warga sipil yang menjadi korban perang berpotensi memicu gelombang demonstrasi massa yang jika tidak dikelola dengan baik, dapat mengganggu stabilitas keamanan dalam negeri — terutama di wilayah DKI Jakarta di mana terdapat banyak kedutaan besar negara-negara yang terlibat konflik.

Siaga mental dan rasional fisik & adakan doa.qunu nazilah tanpa lafadz laknat setiap shalat 5 waktu ******
Semoga presiden RI tetap fokus mengurus persoalan dalam negeri seperti minimalisir tingkat pengangguran dan minimalisir tingkat kemiskinan memperluas lapangan kerja dan waspada bencana alam serta tidak perlu ikut campur tangan urusan luar negeri yg sedang konflik,fokus tetap bekerja utk kepentingan dalam negeri dan jika dibutuhkan saya siap membantu pemerintah dalam kabinet utk kemajuan dan kesejahteraan seluruh rakyat Indonesia adil dan makmur berdasarkan kejujuran dan profesional yg saya miliki dan semua saya lakukan utk Indonesia tercinta