Siapa Mike Pence dan Mengapa Ini Begitu Mengejutkan?
Mike Pence adalah Wakil Presiden AS periode 2017–2021 di bawah Donald Trump. Keduanya pernah bahu membahu membangun agenda ekonomi “America First” yang menjadi landasan politik Trump. Namun hubungan keduanya retak dramatis sejak peristiwa 6 Januari 2021, ketika massa pendukung Trump menyerbu Gedung Capitol — sebagian di antara mereka meneriakkan ancaman terhadap Pence yang menolak memblokir pengesahan hasil Pilpres 2020.
Sejak saat itu, Pence secara konsisten membangun identitas politiknya yang berbeda dari Trump — termasuk maju sebagai kandidat Presiden di Pemilu 2024 sebelum akhirnya mengundurkan diri. Kini, lewat organisasi American Freedom, Pence aktif mengusung agenda konservatisme konstitusional, termasuk dukungan terhadap perdagangan bebas — sebuah posisi yang berseberangan langsung dengan proteksionisme tarif Trump.
Keterlibatan Pence melalui amicus brief dalam kasus Learning Resources, Inc. v. Trump ini menunjukkan bahwa ia bukan sekadar penonton — ia adalah bagian dari kekuatan hukum yang secara aktif mendorong pembatalan tarif mantan bosnya.
Putusan Mahkamah Agung yang Dimaksud Pence
Putusan yang dirayakan Pence adalah keputusan bersejarah Mahkamah Agung AS pada Jumat, 20 Februari 2026, yang menyatakan bahwa tarif impor masif Trump — yang dikenakan berdasarkan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) 1977 — adalah ilegal.
Dalam putusan 6-3 yang ditulis Ketua Mahkamah Agung John Roberts, mayoritas hakim menegaskan bahwa IEEPA tidak memberikan kewenangan kepada Presiden untuk menerapkan tarif secara sepihak tanpa persetujuan Kongres. Putusan ini merupakan pukulan besar bagi kebijakan ekonomi unggulan Trump dan menjadi kemunduran politik yang menyengat.
Tarif berbasis IEEPA yang kini dibatalkan itu telah memungut sekitar $133,5 miliar dari pendapatan tarif sepanjang tahun fiskal 2025 dan awal 2026, atau sekitar 60% dari total pendapatan tarif selama periode tersebut. Dengan pembatalan ini, beban konsumen diperkirakan akan turun sekitar setengahnya di 2026, dari estimasi $1.300–$1.700 menjadi sekitar $600–$800 per rumah tangga.
