Ramadhan dan Deschooling Indonesia


Oleh:
Prof. Daniel Mohammad Rosyid, Guru Besar ITS Surabaya


SERUJI.CO.ID – Ramadhan segera berlalu. Dia adalah syahru madrasah, community self- organized education yang tidak membebani APBN/D. Bayangkan Indonesia tanpa Ramadhan beberapa tahun saja, negeri ini pasti sudah meluncur jatuh ke jahiliyah modern di mana orang bisa memperoleh surat nikah untuk pernikahan sesama jenis.

Selama Ramadhan itu mereka yang beriman secara sukarela menahan syahwat perut dan kelamin, memperbanyak shadaqah dan sholat terutama di malam hari. Jika dilaksanakan secara berdisiplin, puasawan akan mencapai kompetensi muttaqiin: jujur, amanah dan peduli sehingga menjadi warga negara yang cerdas.

Adalah tugas negara untuk melindungi segenap tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Ironinya, justru dengan puasa ramadhan manusia Indonesia bisa cerdas, sedangkan persekolahan Indonesia hanya melahirkan warga negara dungu.

Persekolahan paksa massal di manapun di dunia ini tidak pernah dirancang untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Dia dirancang untuk menciptakan kedunguan massal, dumbing down of peoples begitulah John Taylor Gatto mengatakan fenomena miseducation of the mass ini.

Melalui pendekatan produksi massal ala pabrik sepatu itulah, rezim mutu merajai sistem persekolahan, menelantarkan relevansi bagi setiap anak sebagai subyek belajar yang unik. Penyeragaman massal terjadi, keunikan setiap anak hilang dalam persekolahan itu. Begitulah pendunguan itu terjadi sebagai bagian dari penyiapan tenaga kerja yang dibutuhkan pabrik-pabrik.

Mengakhiri Ramadhan 1439H ini dan menyongsong Revolusi Industri 4.0 saya mengusulkan resolusi radikal: menghapuskan persekolahan massal hingga SMP.

Pendidikan anak usia 0-15 dilakukan di rumah dan di masyarakat (masjid/gereja, Pramuka, Karang Taruna, Sanggar seni dan klub olahraga, dll). Dengan mengutamakan adab, mengembangkan kreativiti, gemar membaca, kesempatan besar untuk menulis dan berbicara.

Selanjutnya mereka bisa menempuh SMA/K sesuai bakat dan minatnya terutama di bidang agro-maritim. Lulus SMA/K sudah cakap bekerja atau memulai usaha mandiri serta menikah memulai hidup berkeluarga. Yang memiliki bakat akademik boleh melanjutkan kuliah untuk menjadi sarjana, magister dan doktor.

Sistem Pendidikan Nasional tidak boleh lagi dimonopoli oleh persekolahan yang makin mahal dan makin menyedot begitu banyak sumberdaya namun terbukti makin tidak efektif mendidik warga muda.

Ramadhan membuktikan wasiyat Tri Pusat Pendidikan Ki Hadjar Dewantara, serta menunjukkan bahwa memang education for all has to be by all. Benarlah bahwa it takes a village to raise a child.

Gunung Anyar, 13/6/2018

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Bagaimana Kalau Prabowo Kalah Lagi?

Terpilih kembali atau tidaknya petahana adalah sebuah hal yang wajar di alam demokrasi. Karena tujuan dari pesta demokrasi, atau yang kita sebut Pilpres ini, adalah untuk mengukur kepuasan dan ketidakpuasan pada petahana.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close