Perbandingan Lintas Lembaga: Apakah Konsisten?
Satu indeks saja tidak cukup untuk menyimpulkan sebuah tren. SERUJI.CO.ID menelusuri posisi Malaysia di lembaga pemeringkat internasional lain:
| Lembaga / Indeks | Malaysia | Indonesia | Catatan |
|---|---|---|---|
| Milken GOI 2026 | #23 global / #1 ASEAN* | #46 global | *6 negara berkembang ASEAN; Singapura dikecualikan |
| IMD WCR 2025 | #23 global (naik 11 poin) | #40 global (turun 13 poin) | IMD: 69 negara; termasuk Singapura (#1) dan Thailand (#25) |
| IMF Article IV 2026 | GDP 2025: 5,2% | Target 5,2–5,8% (2026 RAPBN) | IMF puji ketahanan Malaysia vs tekanan tarif global; inflasi hanya 1,4% |
| Sovereign Credit Rating | A3/A-/BBB+ (Stable) | Baa2/BBB/BBB (Stable) | Malaysia di tier “A” vs Indonesia di “BBB” — dua notch lebih tinggi |
| MIDA — Realisasi FI 2025 | RM 426,7 miliar (rekor) | — | Naik 11% YoY; FI asing RM 207,1 miliar (+20,9%) |
Sumber: Milken Institute (April 2026), IMD WCR 2025, IMF Article IV Consultation Feb 2026, Invest Malaysia, MIDA.
Konsistensi lintas lembaga ini bukan kebetulan. Malaysia mencapai peringkat ke-23 di IMD WCR 2025 dengan lompatan 11 posisi sekaligus, menjadikannya satu-satunya negara yang mencatat perbaikan dua digit dalam satu tahun. Di tahun yang sama, Indonesia justru turun 13 posisi ke peringkat ke-40, setelah sempat mencetak rekor ke-27 di 2024.
Apa yang Mendorong Malaysia? Lima Faktor Struktural
Ketika berbagai lembaga independen mengeluarkan hasil yang konsisten, ada pola struktural yang perlu dipahami:
1. Konsistensi Kebijakan Jangka Panjang
Malaysia memiliki New Industrial Master Plan (NIMP) 2030 dan kerangka Ekonomi MADANI yang memberikan kepastian arah bagi investor. Stabilitas regulasi — yang mencakup insentif fiskal, kepemilikan asing, dan perlindungan hukum — menjadi fondasi yang sulit ditiru dalam jangka pendek.
2. Sektor Keuangan yang Matang
Posisi ke-17 dunia dalam Financial Services di GOI 2026 mencerminkan kedalaman pasar modal Malaysia, akses kredit yang luas, serta infrastruktur perbankan yang diakui. Bank Negara Malaysia (BNM) dinilai IMF sebagai salah satu bank sentral paling prudent di kawasan.
3. Johor-Singapore Special Economic Zone (JS-SEZ)
Ekosistem baru yang memadukan kedekatan geografis dengan Singapura (hub keuangan global peringkat 7) dengan biaya operasional yang lebih rendah di Johor. Johor sendiri menyerap RM 91,1 miliar dari total investasi Malaysia di 9 bulan pertama 2025 — tertinggi di antara semua negara bagian.
4. Posisi dalam Rantai Pasok Semikonduktor Global
Di tengah relokasi rantai pasok dari China akibat tekanan geopolitik dan tarif AS, Malaysia — khususnya Penang — menjadi penerima manfaat terbesar. Amerika Serikat menjadi investor asing ke-3 terbesar Malaysia dengan RM 11,3 miliar pada 9M 2025, sebagian besar ke sektor semikonduktor dan teknologi.
5. Rating Kredit “A” — Dua Notch di Atas Indonesia
Malaysia memiliki rating Moody’s A3 / S&P A- / Fitch BBB+, semua dengan outlook Stable. Ini memberi akses ke biaya modal lebih rendah dan menarik institusi investasi yang hanya boleh masuk ke aset “investment grade” tier-A.
Empat Catatan Kritis: Mengapa Klaim Ini Perlu Dikontekstualisasi
Jurnalisme berbasis data mengharuskan kita tidak hanya meneruskan angka, tetapi juga membaca batasannya:
Catatan 1: GOI Tidak Mencakup Semua ASEAN
Laporan Milken Institute 2026 hanya menilai enam negara berkembang. Thailand (ekonomi yang lebih besar dari Malaysia dalam banyak metrik), Myanmar, dan negara ASEAN lain tidak dimasukkan. Klaim “nomor satu Asia Tenggara” karenanya lebih tepat diartikan sebagai “nomor satu di antara negara berkembang ASEAN yang dikaji laporan ini.”
Catatan 2: GOI vs IMD — Dua Kerangka yang Berbeda
IMD WCR 2025 mencakup 69 negara termasuk Singapura. Dalam pemeringkatan itu, Malaysia di posisi ke-23, namun Singapura (#1), Thailand (#25), dan bahkan beberapa negara Eropa kecil berada di atas. Artinya, posisi Malaysia kuat, tetapi “nomor satu Asia Tenggara” hanya berlaku jika Singapura dikecualikan.
Catatan 3: Angka FI vs FDI — Jangan Tertukar
Malaysia rajin mempublikasikan angka “Approved Foreign Investment” (FI) dari MIDA, RM 207,1 miliar di 2025. Namun angka ini adalah persetujuan awal, bukan realisasi. FDI riil yang dilaporkan DOSM (aliran masuk aktual) jauh lebih kecil: sekitar MYR 53,46 miliar sepanjang 2025. Keduanya valid, namun menggunakan angka FI untuk klaim “rekor” bisa menyesatkan jika tidak disertai penjelasan.
Catatan 4: Indonesia Sedang Mengejar, Bukan Diam di Tempat
Di GOI 2026, Indonesia memang di posisi ke-46 global, di bawah Malaysia. Namun ada satu sorotan positif yang sering terlewat: dalam subkategori Financial Services, Indonesia naik dari peringkat ke-78 (2022) menjadi ke-38, lonjakan terbesar di antara seluruh negara yang dinilai Milken Institute. Ini menunjukkan reformasi sektor keuangan Indonesia mulai memberikan hasil nyata.
