Hanya Karena Masih Gunakan Cantrang, Polisi Air Tembaki Kapal Nelayan Sergai

MEDAN, SERUJI.CO.ID – Sejumlah kapal cantrang milik nelayan Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai) ditembaki Polair Serdang Bedagai. Para nelayan lantas melaporkan penembakan itu ke Bidang Profesi dan Pengamanan (Propam) Polda Sumut.

Rahman salah seorang perwakilan nelayan kapal cantrang mengatakan penembakan itu terjadi pada 4 April 2018 siang. Saat itu sejumlah nelayan tengah melaut sekitar 3 mil dari bibir pantai dengan menggunakan alat tangkap cantrang.

“Tiba-tiba saja Polair Serdang Bedagai menangkap kapal atas nama Sulaiman. Bahkan teman kami itu sampai sekarang ditahan,” kata Rahman bersama sejumlah nelayan saat mendatangi Propam Polda Sumut, Selasa (17/4).

Rahman menambahkan, rekan mereka bernama Adi juga sempat ditangkap. Namun sejumlah nelayan saat itu langsung memprotes penangkapan tersebut.


“Saat rekan kami bernama Adi ditangkap, teman-teman nelayan lainnya langsung protes. Lalu si Adi dilepaskan. Tindakan Polair ini membuat nelayan lainnya berdatangan,” urainya.

Saat itulah, menurut Rahman, oknum Polair Serdang Bedagai langsung menembaki kapal nelayan. Setidaknya ada enam kapal nelayan yang tak luput dari tembakan. Bahkan salah seorang nelayan bernama Yakub nyaris terkena peluru.

“Pak Yakub ini langsung tiarap, dan nyaris terkena peluru. Jadi setidaknya ada enam kapal yang saat itu diberondong peluru. Karena nelayan lainnya terus berdatangan, akhirnya kapal patroli tadi meninggalkan kami,” urainya.

Dia menduga penembakan itu dikarenakan para nelayan masih menggunakan alat tangkap ikan cantrang. Sejumlah nelayan masih menggunakannya lantaran belum mendapat pengganti sesuai yang dijanjikan pemerintah.

“Kami siap tidak memakai cantrang. Tetapi sampai sekarang belum ada penggantinya sesuai yang dijanjikan pemerintah. Begitupun, mereka tidak boleh menembak dan menangkap nelayan. Kalau kami salah, bukan malah ditembaki,” pungkasnya.

Rahman berharap laporan mereka diproses. Karena bagaimanapun juga, kata Rahman, para nelayan terpaksa menggunakan alat tangkap ikan cantrang lantaran janji pemerintah untuk memberikan pengganti belum juga terealisasi.

“Kami tahu penggunaan cantrang memang telah dilarang oleh pemerintah. Begitupun, mereka tidak boleh menembak dan menangkap nelayan. Kalau kami salah, bukan malah ditembaki. Kami ingin melaporkan tindakan arogansi oknum Polair Sergai yang menembaki kapal nelayan. Kami harap laporan kami nantinya diproses,” pungkasnya.

Terpisah, Kasubbid Penmas Bid Humas Polda Sumut, MP Nainggolan mengatakan Propam Polda Sumut telah menerima laporan para nelayan.

“Laporannya telah diterima dan akan diselidiki dulu kebenarannya,” beber MP Nainggolan. (Mica/Hrn)

KONSULTASI

Benang Kusut Reformasi Agraria

Bila penyelesaian konflik pertanahan dilakukan hanya mendasar kepada tujuan peningkatan elektabilitas, maka hal itu bukanlah penyelesaian yang konfrehensif sesuai amanat Reformasi Agraria yang dicita-citakan.
Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Ibu Muda Ini Sudah Harus Cuci Darah, Inilah Penyebabnya

Usia masih muda, tapi wanita ini sudah harus menjalani cuci darah rutin. Apa penyebabnya? simak penjelasan dr. Irsyal Rusad., dokter spesialis penyakit dalam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Baca Juga

Benang Kusut Reformasi Agraria

Bila penyelesaian konflik pertanahan dilakukan hanya mendasar kepada tujuan peningkatan elektabilitas, maka hal itu bukanlah penyelesaian yang konfrehensif sesuai amanat Reformasi Agraria yang dicita-citakan.

Katakanlah dengan Meme: Genre Baru Komunikasi Politik

Meme politik, bagaimana pengaruhnya dalam perpolitikan terkini

Bantah Ada Persekusi Jurnalis di Munajat 212, Panitia: Ada Upaya Framing Negatif

Panitia Munajat 212 menduga ada upaya pengalihan isu dan framing negatif terhadap acara 'Munajat 212'.

Dukung Program Pariwisata, PT KAI Hidupkan 4 Jalur Kereta di Jawa Barat

4 jalur kereta api di Jabar kembali dihidupkan. Inilah jalur-jalurnya

Sesalkan Persekusi Terhadap Jurnalis Saat Acara ‘Munajat 212’, PWI Minta Polisi Usut Tuntas

PWI kecam kekerasan terhadap jurnalis saat acara Munajat 212, minta polisi usut tuntas.

Kampanye di Lembaga Pendidikan, Caleg PSI Ditetapkan Sebagai Tersangka

Caleg PSI jadi tersangka pidana pemilu.

The Habibie Center: Sudirman Harus Buktikan Pertemuan Rahasia Jokowi-Bos Freeport

Pengamat menilai Sudirman harus ungkap bukti-bukti dari pernyataannya, apalagi ada yang bertolak belakang dari yang disampaikan pada 2015 silam.

AJI Kecam Oknum Beratribut Ormas Lakukan Kekerasan Pada Jurnalis Saat Munajat 212

Sejumlah jurnalis mengalami persekusi yang diduga dilakukan oknum dengan atribut sebuah ormas saat acara Malam Munajat 212.

Kampanye di Lembaga Pendidikan, Caleg PSI Ditetapkan Sebagai Tersangka

Caleg PSI jadi tersangka pidana pemilu.

The Habibie Center: Sudirman Harus Buktikan Pertemuan Rahasia Jokowi-Bos Freeport

Pengamat menilai Sudirman harus ungkap bukti-bukti dari pernyataannya, apalagi ada yang bertolak belakang dari yang disampaikan pada 2015 silam.

Ulama dan Tokoh Politik Bersama Ummat Penuhi Kawasan Monas dalam Munajat 212

Kawasan monas dipenuhi ummat yang hadiri Munajat 212.

Ombudsman Tegaskan Lahan Prabowo Bukan HGU Tapi HPHTI

Akhirnya setelah ditelusuri, Ombudsman memastikan lahan yang dikuasai Prabowo adalah HPHTI, bukan HGU.

TERPOPULER

video

Viral: Video Bupati Kuningan Sebut “Laknat” Jika Kepala Desa Tidak Dukung Jokowi

Ohhhh, Bupati Kuningan melaknat para kepala desa jika tidak mendukung Jokowi. Koq bisa?

Bertemu dengan Sandiaga, Inilah Harapan dan Curhat Peternak Sapi di Pasuruan

Berharap Sandi jadi Wapres, peternak sapi pasuruan curhat persoalannya.

Survei LSI: Walau Masih Memimpin, Elektabilitas PDIP Turun Hingga 4 Persen

PDI Perjuangan masih memimpin, namun makin dipepet partai Gerindra

Prihatin Kondisi Ekonomi Saat ini, Gerindra Akan All Out Menangkan Prabowo

Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Gerindra Kalimantan Barat (Kalbar) menyatakan, kesiapannya untuk all out memenangkan Prabowo.

Pengamat Nilai Panggung Debat Kedua Milik Jokowi, Begini Alasannya

Pengamat menilai panggung debat kedua milik Jokowi. Benarkah?