Bos Esemka Akui Produksi Perusahaannya Bukan Mobil Nasional


BOYOLALI, SERUJI.CO.ID – Direktur Utama PT Solo Manufaktur Kreasi (Esemka) Edi Wirajaya menegaskan bahwa Mobil Esemka Bima 1.2 dan Bima 1.3 yang diproduksi perusahaannya bukanlah mobil nasional.

Hal itu disampaikan Edi saat memberikan sambutan di depan Presiden Jokowi dan tamu undangan saat peresmian pabrik dan peluncuran Esemka Bima, yang merupakan mobil angkutan barang bak terbuka di Desa Demangan Kecamatan Sambi Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (6/9).

“Kami bukan mobil nasional yang dipahami orang selama ini, Esemka mobil buatan Indonesia karya anak bangsa sendiri,” kata Edi.

Dijelaskan Edi bahwa perusahaannya adalah perusahaan swasta nasional yang 100 persen dimiliki oleh swasta.

Edi Wirajaya, mengatakan dua mobil Esemka jenis pick up atau mobil niaga diluncurkan yaitu Bima 1.2 dan Bima 1.3.

Ia menjelaskan, truk ringan atau mobil niaga Esemka Bima 1.3 hadir dengan kabin yang lega serta ruang kargo yang luas cocok untuk lebih banyak muatan. Dilengkapi dengan mesin 1.3 L DOHC 16V yang tangguh dan bertenaga, Esemka bisa menjadi kebanggan Indonesia, karena tangguh, harga terjangkau dan bertenaga.

“Saya bersama karyawan berterima kasih atas semua dukungan dan partisipasi dari berbagai pihak sehingga kami berhasil membangun pabrik bersama fasilitasnya, di mana brand dan principalnya Indonesia yakni Esemka,” ujarnya.

Pihaknya juga mengikuti setiap aturan yang ditetapkan, serta semua peraturan yang berlaku industri ini.

Edi berharap, dengan diresmikan fasilitas ini, Esemka bisa merintis kemajuan industri otomotif buatan Indonesia sekaligus satu langkah maju dalam meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Sehingga, menjadi SDM unggul melalui pemberdayaan para siswa lulusan SMK yang secara langsung diseleksi terlibat dalam proses produksinya.

“Para siswa lulusan SMK merupakan anak bangsa yang ingin membuktikan bahwa mereka mampu dalam berkarya bagi nusa dan bangsa serta mengharumkan nama Indonesia,” tuturnya.

Esemka, imbuh Edi, adalah hasil kerja keras timnya selama ini.

“Kami berharap fasilitas ini dapat memberikan manfaat yang baik untuk masyarakat Boyolali khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya,” katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Meminta Maaf Kepada Generasi Yang Hilang

Tanggal 13 Febuari 2008 berlangsung peristiwa penting, di Australia. Melalui pidato Perdana Menteri Kevin Michael Rudd, di hadapan sidang Parlemen, pemerintah Australia secara secara resmi meminta maaf.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close