Ketika Terorisme Mencari Target Yang Mudah

Review Film “22 Menit,” (2018) Oleh: Denny JA

Selesai menonton film 22 menit, saya justru teringat film Dark Hours, yang mengkisahkan Winston Churchill di era kekuasaan Hitller.

Churchill sedang tertekan secara politik. Sejawat dan senior yang berpengaruh di partainya, Partai Konservatif, meminta Churchil berkompromi dengan Hittler. Sikap Raja Inggris saat itu juga serupa. Parlemen berulang menyatakan Inggris tak memiliki kekuatan militer yang setara dengan Jerman untuk berperang.

Namun selaku perdana menteri, Churchill tak ingin tunduk pada kehendak Hittler. Iapun pergi menuju kereta api bawah tanah. Di situ ia berjumpa rakyat kecil.

Di dalam kereta Churchill bertanya bagaimana jika Inggris berunding dengan Hittler? Di luar dugaan, rakyat jelata itu menentang keras. Bersahut-sahutan mereka menjawab. Ujar yang satu, jangan pernah kita tunduk pada yang zalim. Ujar yang lain, kita lawan Hittler dengan apapun yang kita punya.

Di antara hikuk pikuk suara rakyat yang gemuruh, Churchill mendapatkan inspirasi. Ujarnya, Inggris punya yang lebih hebat dari sekedar kekuatan militer. Inggris punya kehendak rakyat yang tak sudi untuk tunduk.

Churchill pun bergegas menuju parlemen. Ia membuat pidato yang kemudian historik. Inggris menolak berunding dengan Hittler. Inggris melawan.

Dalam film, percakapan Churchill dengan rakyat jelata di kereta bawah tanah sangatlah sentral. Percakapan itu sungguh menambah bobot film.

Tapi ternyata percakapan Churchill di kereta bawah tanah itu tak pernah ada dalam sejarah. Adegan Itu sepenuhnya fiksi. Dan ini fiksi yang sangat diperlukan untuk membuat film dramatik.

Aha! Ujar saya setelah menonton film “22 menit.” Film ini kurang bersedia memasukkan fiksi yang lebih dramatik ke dalam film. Penulis skenario dan sutradaranya tak mau mengambil teknik seperti film the Dark Hours.

Padahal dengan tambahan fiksi paling lama 15 menit lagi, film 22 menit akan lebih menyentuh. Ia akan lebih bisa misalnya membuat penonton menetes air mata, atau marah yang tak alang kepalang.

Kekurangan film ini kurang mengeksplor sisi drama, yang bisa dimainkan dengan memasukkan fiksi!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER