Bersama Saudara Muda, Indonesia Menangkal Kampanye Hitam Sawit

0
181
Industri sawit kerap mendapat tentangan dari negara pengimpor. (Foto: industry.co.id)

Oleh Hanni Sofia Soepardi, Jurnalis.

Sudah begitu lama fitnah kepada sawit dituduhkan. Komoditas andalan Indonesia dan Malaysia itu kerap kali dianggap merusak hutan, iklim dan melanggar hak masyarakat adat. Akibatnya Indonesia dan Malaysia sebagai produsen sawit terbesar dunia harus menanggung kerugian citra buruk hingga mendapat tekanan pada ekonomi nasional.

Tekanan dan kampanye hitam tidak jarang datang dari berbagai negara maju di samping penetapan yang ketat atas aturan tarif dan nontarif terhadap pengguna produk sawit.

Maka dalam banyak kesempatan Presiden Jokowi berupaya mendesak Uni Eropa agar menghapus serangkaian kebijakan dan sikap lainnya yang dianggap dapat merugikan dan merusak citra produsen minyak kelapa sawit.

Agenda itulah yang diusung Presiden Jokowi manakala berkunjung ke Kuching, Malaysia, menandakan konsultasi tahunan ke-12 kedua negara.

Dalam pertemuan terbatas dengan Perdana Menteri Dato’ Sri Mohd. Najib ketika itu, Presiden Jokowi mengangkat berbagai isu termasuk mengingatkan bahwa kedua negara memiliki kerja sama baru yang sangat strategis yaitu penguatan kemitraan untuk kelapa sawit melalui pembentukan Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC).

Pada November 2017, Indonesia telah menjadi tuan rumah Pertemuan Tingkat Menteri CPOPC dengan mengundang sejumlah negara penghasil sawit lainnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU