Anies, Jokowi dan Diskursus Politik Jelang 2019

Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Meruke Circle


SERUJI.CO.ID – Alfito, presenter televisi Amerika yang berbasis di Jakarta, CNN Indonesia, mewawancarai Anies Baswedan secara hati hati, cerdas dan tajam terkait isu Anies akan mengembalikan becak sebagai moda transportasi penting di Jakarta.

Tiga pertanyaan penting Alfito yang mewakili kritik yang muncul atas isu becak ini: 1) Becak akan mengembalikan masa lalu. Beberapa pengamat mengatakan Anies melakukan “retro policy”, yang sudah mati dihidupkan lagi. 2) becak sebagai simbol penindasan. Sebuah pekerjaan biadab yang identik dengan keringat, otot kuat, miskin, kumuh, dan lain sebagainya. 3) Becak akan merusak wajah ibukota yang modern.

Becak mau ditaruh di mana, tanya Alfito? Bukankah sudah ada kenderaan online, seperti ojek dan lain lain?

Soal becak ini merupakan isu paling menarik dari dua isu minggu ini, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Isu lainnya adalah Jokowi yang jadi imam Sholat di Afganistan. Foto Jokowi yang jadi imam Sholat dengan sorban “raksasa” di kepalanya, serta memakmumi orang-orang Afganistan, beredar di berbagai media dan medsos. Ada pro-kontra yang muncul karena banyak yang menanyakan apakah Jokowi fasih melafazkan ayat-ayat sebagai syarat sah imam?

Demikianlah kedua pemimpin bangsa ini membentuk diskursus politik seminggu ini. Lalu apa yang dapat menjadi hikmah bagi kita, rakyat Indonesia?

Diskursus Politik

Jokowi dan Anies Baswedan, sebagaimana dimaksud Michel Foucault, sosiolog ternama Prancis, sedang menciptakan sistem berpikir dan ilmu pengetahuan serta wacana pada kita melalui kekuasan (power) mereka dengan statemen atau bahasa tindakan yang mereka lakukan.

Pada minggu ini, via isu becak, Anies membangun narasi agar seorang pemimpin mengenali nasib rakyatnya yang paling miskin dan membelanya, yaitu tukang becak .

Pada saat bersamaan, Jokowi memberitahu rakyat nya bahwa kesholehan pemimpin, yang ditunjukkan dipercaya sebagai imam Sholat, menjadi kunci kepemimpinan.

Anies mengetengahkan wacana structural sementara Jokowi mengetengahkan politik identitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Breaking News: Akhirnya, Presiden Jokowi Putuskan Tes Massal Covid-19

Tidak mengambil kebijakan Lockdown, Presiden Jokowi akhirnya lebih memilih melakukan tes massal Covid-19.

Tahukah Anda, Berwudhu Dapat Kurangi Risiko Tertular Virus Corona?

Berwudhu merupakan kegiatan yang tak bisa dipisahkan dari muslim.. Tahukah anda bahwa berwudhu bisa mengurangi resiko tertular virus Corona?

Cegah Kepanikan, AMSI Imbau Media Kedepankan Kode Etik dalam Pemberitaan Wabah Corona

Wens menjelaskan beberapa langkah yang harus dilakukan media-media anggota AMSI dalam pemberitaan terkait virus Covid-19 tersebut.

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

TERPOPULER

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Lima Macam Riba Yang Diharamkam

Tentang Korupsi Sektor Publik

Sebenarnya fenomena korupsi sektor publik terjadi di hampir semua Negara. Bukan hanya di Indonesia yang masuk dalam kategori negara yang belum mapan secara ekonomi. Namun korupsi sektor publikpun terjadi di negara yang sangat mapan perekonomiannya seperti Saudi Arabia.
close