Andi Arief, Yudhoyono dan Keteladanan Sandi Uno

Oleh: Dr. Syahganda Nainggolan, Direktur Eksekutif Sabang Merauke Circle

2. Ambisi Prabowo Subianto

Prabowo Subianto adalah manusia ambisius. Dia mengejar apa yang dia inginkan, dan terus mengejarnya. Ambisi Prabowo untuk menjadi presiden sudah dirintisnya sejak ikut konvensi capres Golkar 2004, berpasangan dengan Megawati sebagai Cawapres pada tahun 2009 dan menjadi capres pada 2014 berpasangan dengan Hatta Rajasa.

Ambisi demi ambisi dijalankan Prabowo dengan membelanjakan kekayaannya untuk membangun partai politik dan ormas HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), Koperasi Pasar, dll. Dia menempuh kehidupan non militer dengan membangun kekuatan rakyat.

Apakah salah ambisi ini?

Dalam teori teori kepemimpinan, ambisi adalah syarat penting untuk mencapai cita cita. Namun, dibalik itu semua, ambisi itu berupa kebaikan jika ada misi kebaikan didalamnya.

Ambisi Prabowo untuk berkuasa tertuang dalam pikiran2nya baik dalam buku “Membangun Indonesia Raya”, “Pradoks Indonesia”, maupun pidato2nya yang dapat diakses di youtube. Intinya, Prabowo berkeinginan membangun Indonesia yang berkeadilan, berdaulat dan mandiri.

Dalam pertemuan saya dengan Andi Arief dan Ferry Juliantono, 23 Juli, sebelum esok harinya Prabowo mengunjungi SBY, ambisi Prabowo ini sudah terbahas. Sebagai “orang koppassus”, pasti watak Prabowo pantang menyerah.

Apakah Prabowo “jenderal kardus”? Hanya karena AHY tidak dipilihya sebagai cawapres?

Pemilihan cawapres bagi Prabowo adalah penting namun bersifat sekunder, setelah ambisinya yang bersifat primer. Berbagai gangguan atas keinginan Prabowo menjadi capres diketahui publik dengan adanya godaan dari pihak kekuasaan untuk menjadikannya hanya cawapres Jokowi, atau dari pihak lainnya untuk sebagai “king maker” atau bahkan adanya pengkhianatan dalam rencana pencapresan itu.

Setelah Prabowo yakin dengan modal kurang dari PT 20%, akan mendapatkan tiket dengan dukungan koalisi, maka urusan cawapres menjadi lebih ringan.

Lebih ringan artinya cawapres yang muncul haruslah merupakan titik keseimbangan kepentingan partai partai koalisi, baik ukuran soliditas, visi misi, maupun logistik.

Di sisi inilah AHY masuk dalam pusaran pertarungan, PKS memaksakan calonnya, Salim Segaf, PAN memaksakan Zulkifli Hasan atau Ustad Somad, sedangkan PD mendorong AHY.

Karena sifat pertarungan ini saling nenihilkan, maka PKS dan PAN mencari representatisi mereka pada Anies Baswedan. Namun, karena Anies masih ingin tetap Gubernur dan hanya berminat Capres, muncul nama Sandi sebagai alternatif.

Prabowo lebih memilih didukung dua partai sekutu lamanya, selama oposisi, daripada memilih AHY.

lalu, dimanakah salah Prabowo?

ARTIKEL TERBARU

Pasca Kecelakaan Tulang Belakang, Kaki Sering Nyeri dan Perih, Apa Sebabnya?

Pada 16 tahun yang lalu saya pernah kecelakaan dan tiga ruas tulang belakang remuk. 3 bulan awal kaki kiri saya tidak bisa berjalan, 6 bulan berikutnya sudah bisa jalan walaupun tidak sekuat kaki kanan, sampai sekarang.

Israel Kembali Serang Gaza, 10 Tewas

SERUJI.CO.ID - Tentara pendudukan Israel telah melakukan beberapa serangan...

Inilah 4 Jenis Nazhir: Anda Masuk Kategori Manakah?

Oleh: Imam Nur Azis Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI) 2017-2020 SERUJI.CO.ID...

Janganlah Menyebut Nama Rasulullah Muhammad SAW Tanpa Gelar

SERUJI.CO.ID - Memanggil Rasulullah Muhammad sholallahu 'alaihi wassallam (SAW)...

Menua: Agar Otak Tak Ikut Beruban

oleh dr. Irsyal Rusad, Sp PD, dokter spesialis Penyakit Dalam. Dalam perjalanan...

Ngotot Pertahankan Mardani Maming sebagai Bendum, Kantor PBNU Bisa Diperiksa KPK

Dengan tidak menonaktifkan, mau tak mau PBNU terkait dengan Mardani yg saat ini buron. Maka jangan salahkan KPK jika nanti dalam proses pencarian Mardani akan memeriksa kantor PBNU.

Turunkan Berat Badan Sedikit, Manfaatnya Banyak.

oleh dr. Irsyal Rusad, Sp PD, dokter spesialis Penyakit Dalam. Menurunkan berat...

TERPOPULER