Refleksi peristiwa 9/11

Kembali ke acara yang disebutkan di atas, dihadiri oleh para calon pendeta Katolik (seminarian), dengan tiga pembicara; saya sendiri mewakili komunitas Muslim, Rabbi Joseph Potasnik (Ketua Dewa Rabbi Yahudi New York) dan Kepala Pemadam Kebakaran kota New York di saat peristiwa 9/11 itu terjadi. Yang bertindak sebagai moderator adalah Bishop Massa, yang menjadi koordinator kedatangan Pope Francis ke kota Bew York tahun lalu.

Acara diskusi yang dimoderatori (moderated discussion) ini dimulai dengan pertanyaan kepada semua narasumber tentang pengalaman pribadi di saat tragedi 9/11 terjadi. Kepala pemadam kebakaran NY Cassano bercerita panjang lebar bagaimana para anggota pemadam kebakaran berjuang menyelamatkan nyawa manusia ketika itu. Mendengarkan itu saya kembali membayangkan di saat kejadian hari itu. Bagaimana kepanikan yang terjadi di kota New York saat itu, ditopang oleh kemajuan media dan informasi menjadikan peristiwa itu tidak saja menggoncang Amerika. Tapi sekaligus menggoncang dunia, bahkan menjadi pewarna hubungan antar manusia (human relations) dunia.

Saya lalu terpikir kalau saja peristiwa yang menimpa Amerika di tahun 2001 dan menelan hampir 3000 nyawa manusia itu terjadi di sebuah negara Islam, entah apakah akan seheboh dengan tragedi 9/11 itu?

Saya diingatkan oleh puluhan ribu, bahkan barangkali ratusan ribu jiwa rakyat sipil yang terbantai di Irak, Afghanistan, dan negara-negara Muslim lainnya. Tapi tragedi yang menimpa mereka tidak seheboh seperti apa yang terjadi di bulan September 2001 lalu.

Bahkan saat ini pembataian yang terjadi di salah satu negara mayoritas agama yang dicap sebagai agama “non violent” (tanpa kekerasan), agama yang mengajarkan kesejukan dan penghormatan kepada kehidupan. Agama yang menghormati nyawa makhluk, bahkan nyawa hewan sekalipun. Yaitu agama Buddha di Myanmar. Tapi pembantaian dan kekerasan yang dialami oleh masyarakat Rohingya itu tidak menjadikan dunia heboh. Bahkan cenderung dunia yang kerap mengaku sebagai pahlawan HAM dan kemanusiaan itu semua diam membisu.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER