Menjemput Eva di Balukhali

3
174
Eva bersama tim ACT.

SERUJI.CO.ID – Eva, gadis 9 tahun itu kini sebatang kara. Kekejaman tentara Myanmar telah merenggut nyawa ayah, ibu, dan empat adiknya sekaligus.

Trauma tergambar jelas di wajahnya yang kuyu. Di kamp pengungsian Balukhali, Cox’z Bazaar, sebuah kota pelabuhan di Bangladesh. Ia lebih banyak diam dengan tatapan kosong.

Menurut dr. Rizal Alimin koordinator Tim Medis Aksi Cepat Tanggap (ACT), hampir setiap malam Eva menangis sambil memanggil ayah ibunya. Ia juga kerap menolak makanan yang disodorkan kepadanya.

Loading...

Seperti puluhan anak-anak Rohingya lainnya, gadis manis ini tampak belum mengerti mengapa tragedi menghancurkan keluarganya.  Saat malam tiba, ia masih sering mencari ibunya. Ia selalu lupa bahwa mereka telah meninggalkannya sendirian di dunia.

“Setiap anak mungkin akan bersikap seperti Eva jika mengalami hal yang sama,” ujar dr. Rizal.

Eva dibawa ke kamp pengungsi oleh Tusmina, seorang ibu tetangganya. Menurut Tusmina, Eva  lolos dari maut karena saat tentara Myanmar menyerbu kampungnya, ia tengah berada di luar rumah. Saat itu tentara melarang seluruh penghuni rumah keluar, sebelum memberondong dengan tembakan bertubi-tubi dan kemudian membakarnya.

Langganan berita lewat Telegram
loading...

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU