Pemantau HAM: Hilangnya Bantuan Dana Penyebab Anak Pengungsi Suriah Putus Sekolah

NEW YORK – Jutaan dolar yang dijanjikan oleh para pemimpin dunia tahun lalu untuk mendanai pendidikan anak-anak pengungsi Suriah ternyata tidak pernah sampai ke tangan para siswa, kata kelompok hak asasi terkemuka pada Kamis (14/9).

Dana yang hilang dari beberapa pendonor besar seperti AS dan Uni Eropa telah menyebabkan sekitar setengah juta anak-anak Suriah tidak dapat melanjutkan sekolah, kata Human Rights Watch (HRW) dalam sebuah laporan.

Para pemimpin dunia membuat janji terinci untuk memberikan sumbangan saat digelarnya pertemuan pada Februari 2016 di London. Pertemuan itu berusaha untuk menggalang kebutuhan kemanusiaan bagi jutaan warga Suriah yang mengungsi akibat perang sipil.

Sejak 2011, konflik telah memaksa lebih dari lima juta orang melarikan diri dari Suriah, mereka banyak mencari perlindungan di negara tetangganya seperti Lebanon, Turki dan Yordania.

Dana yang dijanjikan itu mencapai lebih dari 1,4 miliar dolar AS, dimana kelompok bantuan dan lembaga PBB mengatakan bahwa dana tersebut diperlukan untuk mengirim anak-anak Suriah yang putus sekolah kembali mengenyam pendidikan.

Namun HRW mengatakan bahwa pihaknya menemukan perbedaan besar antara jumlah dana yang ditargetkan untuk diberikan pada 2016 dan keterangan laporan dari berbagai pihak penerima.

Pada akhir 2016, pihak berwenang di Lebanon masih menunggu lebih seperempat dari dana bantuan bernilai keseluruhan sebesar 350 juta dolar AS. Dana tersebut dijanjikan untuk membayar upah guru, membeli buku dan merencanakan pendaftaran sekolah bagi anak-anak pengungsi, menurut laporan itu.

Di Yordania, kekurangan dana pada 2016 adalah sekitar seperlima dari 250 juta dolar AS yang dijanjikan, katanya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Pendidikan Untuk Merdeka

Pada saat pemimpin Jepang sudah memvisikan sebuah masyarakat baru Society 5.0, apakah kita saat ini, sebagai bangsa, sebagai ummat, berada pada jalur yang benar menuju puncak kejayaan menjadi bangsa yang berdaulat, adil dan makmur, serta cerdas?

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Tentang Korupsi Sektor Publik

Sebenarnya fenomena korupsi sektor publik terjadi di hampir semua Negara. Bukan hanya di Indonesia yang masuk dalam kategori negara yang belum mapan secara ekonomi. Namun korupsi sektor publikpun terjadi di negara yang sangat mapan perekonomiannya seperti Saudi Arabia.