Akhirnya Amerika Persatukan Imigran Anak dengan Orangtuanya

AMERIKA, SERUJI.CO.ID –  Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat pada Sabtu (23/6) malam waktu setempat mengatakan bahwa pihaknya telah menyatukan kembali 522 anak-anak yang terpisah dari keluarganya.

Dalam siaran persnya, Badan Perlindungan Perbatasan dan Bea Cukai (ICE) dari departemen yang sama mengatakan bahwa mereka belum akan mengembalikan sejumlah kecil anak yang terpisah dari orang tua (atau pendamping dewasa mereka) oleh akibat selain kebijakan keras imigrasi pemerintah.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Rabu (20/6) menandatangani surat keputusan untuk menghentikan kebijakan memisahkan anak imigran dari keluarganya di perbatasan Meksiko  terutama setelah foto-foto anak-anak di dalam kurungan memicu kemarahan publik dari dalam maupun luar negeri.

Sampai pada 20 Juni lalu, Departemen Layanan Kesehatan dan Kemanusiaan (HHS) telah menampung 2.053 anak tanpa pendamping dewasa. HHS mengaku “telah bekerja sama dengan badan-badan terkait lainnya untuk mempercepat komunikasi dan menyatukan semua anak dengan orangtuanya.” HHS juga mengatakan bahwa mereka telah menyusun sebuah proses yang membuat anggota keluarga dewasa bisa mengetahui di mana keberadaan anak dan bisa menghubungi anaknya setelah terpisah. Namun sejumlah media setempat melaporkan bahwa sejumlah imigran yang membawa anak hingga kini tidak mengetahui keberadaan anaknya. Mereka juga tidak bisa berkomunikasi dengan sang buah hati.


Sementara itu ICE kini sudah mendedikasikan sebuah bangunan sebagai pusat reunifikasi keluarga-keluarga pendatang.

Semua orang tua kini telah diberi nomor telepon untuk mencari informasi, dengan jam kerja dari Senin sampai Jumat dari jam 08:00 pagi sampai 12 jam kemudian.

“Zero tolerance” adalah kebijakan dari Jaksa Agung Amerika Serikat Jeff Sessions yang mulai diberlakukan pada April lalu. Dalam kebijakan ini, semua pendatang yang memasuki Amerika Serikat secara ilegal dari perbatasan Meksiko akan dijatuhi diproses sebagai tindak kejahatan hukum.

Kebijakan tersebut menyebabkan terpisahnya anak dari keluarganya karena anak-anak tersebut tidak bisa mengikuti orang tuanya dipenjara selama masa pengadilan yang bisa memakan waktu berbulan-bulan bahkan tahunan.

Sebagian besar anak itu berasal dari kawasan Amerika Tengah, terutama dari negara miskin seperti Guatemala, Honduras, dan El Salvador.

Saat ini, 17 persen dari anak yang ditampung dalam fasilitas HHS berada di sana akibat penerapan kebijakan “zero tolerance”, sementara 83 persen lainnya tiba di Amerika Serikat tanpa orang tua maupun pendamping. (Ant/Su02)

BACA JUGA

Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Nikmat Allah Jangan Dustakan

Kenapa anak itu bahagia? Karena dia tahu berterimakasih dan menghargai hadiah yang didapatnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Loading...

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Media di Tengah Masyarakat Yang Terjangkit Post Truth

Bagi media, Post Truth itu sesungguhnya sangat menguntungkan. Karena di tengah masyarakat yang terjangkiti Post Truth mereka tidak sedang mencari kebenaran, tapi kesukaan.

Caleg Gerindra Terpilih Wajib Setor Ratusan Juta ke Partai Sebelum Dilantik, Begini Penjelasannya

Seluruh Calon Anggota Legislatif (caleg) dari Partai Gerekan Indonesia Raya (Gerindra) yang terpilih pada Pileg 2019, harus siap-siap kembali merogoh kantong sebelum dilantik sebagai anggota legislatif.

Pakar Gempa AS Minta Maaf ke Masyarakat NTB Atas Prediksi Potensi Gempa di Lombok

Ahli geologi dan kegempaan asal Amerika Serikat, Prof Ron A Harris meminta maaf kepada masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) atas pernyataanya mengenai hasil penelitian potensi gempa di selatan Lombok, sehingga membuat rasa takut masyarakat.

Indonesia Kecam Dewan Kota Oxford Yang Berikan Penghargaan Pada Benny Wenda

Pemerintah Indonesia mengecam keras pemberian penghargaan oleh Dewan Kota Oxford, Inggris, kepada Benny Wenda, anggota kelompok gerakan separatis Kemerdekaan Papua Barat.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Kasus Korupsi Jasmas, Wakil Ketua DPRD dari Gerindra Ini Dijebloskan ke Rutan Medaeng

Wakil Ketua DPRD Surabaya dari Partai Gerindra, Darmawan (Aden) usai diperiksa sebagai saksi terkait aliran dana Jasmas senilai Rp4,9 miliar yang bermasalah tersebut, Selasa (16/7) langsung ditahan penyidik Kejari Tanjung Perak.

Pendidikan Antikorupsi di Perguruan Tinggi

Menurut Laode M Syarif, saat ini 68% pelaku korupsi merupakan lulusan perguruan tinggi. Makanya, perguruan tinggi harus bertanggungjawab atas kejahatan korupsi yang dilakukan lulusannya.

Terbukti Langgar Kode Etik Saat Pemilu 2019, DKPP Copot Ketua KPU Sumut

Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sumatera Utara (Sumut), Yulhasni diberi peringatan keras dan dicopot dari jabatannya oleh Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP) RI.

Ucapkan Selamat Pada Jokowi, Prabowo: Kami Siap Membantu Jika Diperlukan

Prabowo juga menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintahan Jokowi bila diperlukan untuk kepentingan rakyat. “Menjadi Presiden itu mengabdi. Masalah yang dihapi besar, kami siap membantu kalau diperlukan untuk kepentingan rakyat,” ujar Prabowo.

Jokowi-Prabowo Bertemu, Berakhirlah Era Cebong-Kampret

Akhirnya Presiden terpilih dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019, Jokowi bertemu dengan calon Presiden Prabowo Subianto. Pertemuan bersejarah itu terjadi di stasiun Moda Raya Terpadu (MRT) Lebak Bulus Jakarta Selatan, Sabtu (13/7) pukul 10.00 WIB.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama

Jin Tidak Takut dengan Bacaan Ayat Kursi

Caleg Gerindra Terpilih Wajib Setor Ratusan Juta ke Partai Sebelum Dilantik, Begini Penjelasannya

Seluruh Calon Anggota Legislatif (caleg) dari Partai Gerekan Indonesia Raya (Gerindra) yang terpilih pada Pileg 2019, harus siap-siap kembali merogoh kantong sebelum dilantik sebagai anggota legislatif.