
Dalam wayang kulit yang berjudul ‘Kalimatoyo’ itu, pria yang akrab disapa Pakde Karwo juga ingin menyampaikan pesan bahwa dirinya tengah mencari sosok figur yang layak memegang tongkat estafet pemimpin Jatim kedepan. Pesan ini ditunjukkan oleh pemain yang berperan sebagai Prabu Yudhistira yang mendapat gelar Lakon Kalimatoyo setelah ia bersama Pandawa Lima memenangkan pertempuran di medan Kurusetra, dan kembali memimpin Kerajaan Astina.
“Dimana Kerajaan Astina dibawah pimpinan Kalimatoyo (Prabu Yudhistira, red), mencapai masa keemasannya dengan kepemimpinan yang mampu membangun kesejahteraan rakyat, kepemimpinan yang partisipatoris dan berkeadilan, yang kemudian diturunkan kepada Prabu Parikesit. Nah, saya melihat ini merupakan kode kultural yang sangat dalam dan penuh makna, yang ingin disampaikan kepada publik,” ujar dosen Fisip Unair itu.
Sementara terkait Pilgub Jatim 2018, lanjut Angga, ada pesan penuh kearifan dari lakon Kalimatoyo. Dimana proses suksesi kepemimpinan saat ini menjadikan Kalimatoyo (Prabu Yudhistira, red) bersama dengan rakyat Jatim perlu untuk menggembleng pemimpin Jatim untuk menemukan sosok figur yang tepat untuk menggantikan posisinya pada priode berikutnya.
“Figur yang diharapkan untuk memimpin Jatim kedepan harus mampu memegang komitmen dengan rakyat maupun dengan elite politik. Kemudian jujur, amanah dan mampu mensejahterahkan rakyat. Nah syarat-syarat itulah yang mau disampaikan Pakde Karwo kepada calon penerusnya, dan sampai sekarang ini belum ada yang bisa memenuhi atau sedang dicari yang bisa memenuhi semua syarat sesuai cerita Yudhistira dan Parikesit ini,” paparnya.
