Lanjutan Sidang ke-8, Ketua MUI: Ahok Telah Menista Al-Qur’an dan Ulama


Jakarta – Lanjutan sidang ke-8 dugaan penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) pada Selasa (31/1) digelar dengan agenda menghadirkan lima saksi, yaitu KH Ma’ruf Amin, Ketua MUI Pusat; Jaenudin alias Panel bin Adim dan Sahbudin, nelayan Pulau Panggang; Dahlia, Anggota KPU DKI Jakarta; dan Ibnu Baskoro, Saksi Pelapor.

Saksi pertama yang dihadirkan adalah KH Ma’rum Amin selaku Ketua MUI. Dalam persidangan, Ma’ruf Amin dihadirkan untuk diketahui seputar keluarnya sikap keagamaan yang telah dikeluarkan MUI Pusat pada 11 Oktober 2016 yang menyatakan pernyataan Ahok di Kepulauan Seribu dianggap telah menodai agama.

Majelis hakim meminta keterangan dasar MUI Pusat mengeluarkan sikap. Ma’ruf mengatakan adanya laporan sejumlah masyarakat dan kajian dari empat komisi MUI, yaitu Komisi Kajian, Komisi Fatwa, Komisi Hukum dan Perundang-undangan, Komisi Informasi dan Komunikasi. Kajian ini mendapatkan hasil bahwa adanya penghinaan yang dilakukan oleh Ahok.

Sementara itu kuasa hukum Ahok menilai bahwa MUI telah melampaui prosedur mengeluarkan sikap keagamaan sebelum keluar fatwa.

“Kalau kasus Pak Basuki ini dipandang sebagai penistaan agama apakah MUI pernah memberikan fatwa terhadap Surat Al-Maidah 51 itu atau tidak. Di balik perbedaan tafsir, sama sekali MUI tidak pernah memberikan satu fatwa bahwa (mengharamkan memilih kafir menjadi pemimpin –red-) itu adalah tidak dibolehkan bagi warga DKI Jakarta atau Umat Muslim. Harusnya proses itu lebih dahulu baru mengeluarkan sikap keagamaan,” ujar Sira Prayuna.

Ma’ruf ditanya perbedaan posisi antara sikap keagaamaan dengan fatwa. Ma’ruf menjawab lebih tinggi sikap keagamaan karena melibatkan beberapa komisi MUI dan pengurus harian. Lebih lanjut Ma’ruf mengatakan, inti adanya penistaan tersebut adanya kata-kata ‘dibohongi pakai Al-Maidah 51’ sehingga dianggap Ahok telah menodai agama Islam dan menghina ulama serta memposisikan Al-Maidah ayat 51 sebagai alat kebohongan. (SB)

Reportase: Syahrul, kontributor Seruji Banten

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Fahira: Milenial Butuh Teladan, Bukan Tik Tok untuk Membumikan Pancasila

"Membumikan Pancasila secara populer sah-sah saja, tetapi yang dibutuhkan millenial saat ini bukan itu. Milenial butuh teladan dari para penyelenggara negara dan para pemimpin bangsa," kata Fahira

Begini Ciri Rumah Idaman untuk Pasangan Muda

Beberapa waktu lalu, portal properti Lamudi melakukan survei tentang rumah impian bagi pasangan muda, survei tersebut dilakukan kepada 100 pasangan yang baru menikah. Inilah hunian idaman untuk pasangan muda.....

5 Alasan Kita Perlu Membuat Undangan Pernikahan Digital

Kini era sudah berubah. Kini ada sebuah cara baru untuk mengirim undangan pernikahan. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan situs desain online, di mana kita bisa menciptakan desain sendiri, juga memanfaatkan Internet untuk mengirimkannya.

Inilah Tulisan AR Baswedan Bantah Tudingan Gerakan Islam Bertentangan dengan Pancasila

AR Baswedan menyebut, pihak-pihak yang sering mempertentangan gerakan Islam dengan Pancasila justru adalah pihak-pihak yang pada hakikatnya tidak paham Pancasila. Justru sebaliknya, pemuka-pemuka ahli pikir Islam memberi pengertian-pengertian yang baik tentang Pancasila yang keluar dari keyakinan yang kuat.

Antisipasi Pelambatan Ekonomi, Ketua DPD Kumpulkan Kadin Provinsi se Indonesia

“Saya sengaja mengumpulkan para ketua umum Kadin provinsi, karena hari ini kita menghadapi masalah serius di sektor dunia usaha dan dunia industri," kata La Nyalla

Kontroversi Omnibus Law, Fahira: Wujud Frustasi Pemerintah atas Kemendegkan Ekonomi

Omnibus Law RUU Cipta Kerja (sebelumnya Cipta Lapangan Kerja atau Cilaka) dinilai sebagai bentuk rasa frustasi pemerintah atas kemandegkan ekonomi yang terjadi lima tahun belakangan ini.

TERPOPULER

Mars Ya Lal Wathon Berkumandang di Istiqhotsah Kubro NU

Indonesia Biladi, Anta ‘Unwanul Fakhoma, Kullu May Ya’tika Yauma, Thomihay Yalqo Himama
close