UNIFIL Bubar Desember 2026, Tiga TNI Gugur Jadi Alarm Pahit di Ujung Misi 48 Tahun

JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Ada fakta krusial yang luput dari sebagian besar pemberitaan soal gugurnya tiga prajurit TNI di Lebanon dalam dua hari terakhir: misi yang mereka pertaruhkan nyawanya itu sudah punya tanggal kematiannya sendiri.

Dewan Keamanan PBB pada Agustus 2025 telah memutuskan bahwa UNIFIL akan resmi berakhir pada 31 Desember 2026, dibubarkan atas tekanan Amerika Serikat dan Israel, tepat 48 tahun setelah pertama kali berdiri pada 1978.

Tiga prajurit Indonesia gugur pada 29–30 Maret 2026. Tersisa sembilan bulan sebelum misi ini resmi ditutup. Dan kini Jakarta menghadapi pertanyaan yang tidak bisa ditunda lebih lama: apakah Indonesia akan membiarkan lebih dari seribu prajurit Kontingen Garuda terus menanggung risiko tertinggi di ujung misi yang sudah ditetapkan tanggal selesainya?

Sembilan Bulan Tersisa, Risiko Semakin Nyata

Keputusan DK PBB Agustus 2025 itu memperpanjang mandat UNIFIL untuk terakhir kalinya, tanpa opsi perpanjangan. AS dan Israel sudah lama mendesak pembubaran, menilai UNIFIL tidak efektif menghentikan Hizbullah.

Kini dengan invasi darat Israel yang terus bergerak mendekati Sungai Litani, persis melewati kawasan operasional Indobatt, posisi prajurit Indonesia menjadi semakin rentan di setiap harinya.

Negara-negara kontributor lain sudah mulai mengambil sikap. Italia dilaporkan mempertimbangkan penarikan dini. Prancis meminta sidang darurat Dewan Keamanan PBB setelah korban berjatuhan. Irlandia mengecam keras serangan meski memastikan seluruh personelnya aman.

Di Jakarta, Wakil Ketua Komisi I DPR Dave Laksono sudah menyerukan evaluasi serius termasuk opsi penarikan. Kapuspen TNI Mayjen Aulia Dwi Nasrullah menegaskan komitmen untuk terus menjalankan misi, namun belum ada keputusan resmi dari Presiden Prabowo maupun Panglima TNI.

Pilihan yang Tidak Mudah

Menarik pasukan lebih awal berarti meninggalkan misi sebelum mandat resmi berakhir, preseden yang bisa memengaruhi reputasi Indonesia sebagai kontributor misi perdamaian PBB terbesar ke-9 di dunia. Bertahan berarti menanggung risiko korban lebih banyak di zona yang semakin panas, dengan perlindungan hukum internasional yang kian diabaikan.

Tidak ada dari dua pilihan itu yang mudah. Dan sementara keputusan itu belum diambil, prajurit-prajurit Indonesia masih berada di sana, menunggu di tengah perang yang bukan perang mereka.

Latar Belakang

Tiga prajurit Indonesia gugur dari dua insiden terpisah dalam kurang dari 24 jam. Insiden pertama Minggu (29/3/2026) malam di Adchit Al Qusayr, Praka Farizal Rhomadhon gugur, dikonfirmasi resmi Mabes TNI. Insiden kedua Senin (30/3/2026) siang di Bani Hayyan, dua prajurit Indonesia gugur, dikonfirmasi UNIFIL dan Jean-Pierre Lacroix (Kepala UN Peacekeeping PBB), namun Mabes TNI belum mengeluarkan pernyataan resmi soal insiden ini hingga Selasa (31/3/2026) pagi WIB.

UNIFIL menegaskan kedua insiden sedang diinvestigasi dan menyerukan semua pihak menghormati keselamatan personel perdamaian sesuai hukum internasional.


Disclaimer: Fakta pembubaran UNIFIL berdasarkan laporan Irish Times dan RTE yang mengutip keputusan DK PBB Agustus 2025. Data korban bersumber dari UNIFIL dan Reuters. Pernyataan Kapuspen TNI bersumber dari Antara dan Republika, Senin 30 Maret 2026.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER