Kota Sawah Lunto Diusulkan Menjadi Warisan Budaya Dunia

0
154
Peron Museum Kereta Api di Kota Sawahlunto. (foto:istimewa)

PADANG – Pemerintah Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) melalui Dinas Kebudayaan Provinsi kembali mengusulkan kawasan kota Sawalunto yang memiliki objek bekas lokasi tambang batubara Ombilin menjadi warisan budaya dunia atau World Heritage kepada badan dunia Unesco.

Usulan itu diperluas dengan cakupan yang sesuai dengan persyaratan dari lembaga tersebut, kata Gubernur Sumatera Barat, Irwan Prayitno. Diharapkan usulan ini akan berdampak positif terhadap pariwisata di Sawahlunto dan Sumatera Barat umumnya.

“Dengan terdaftarnya Sawahlunto sebagai warisan dunia tentu akan mendatangkan para wisatawan yang akan berdampak langsung pada perekonomian masyarakat,” kata Irwan di Padang hari ini, Minggu (23/4).

Gubernur menjelaskan Sawahlunto terkenal dengan lokasi tambang batu bara yang sudah sejak abad ke-19 dan memiliki nilai sejarah sendiri.Tambang batu bara diharapkan memberikan dampak secara ekonomi dan sosial terhadap masyarakat di Sawahlunto. Hal ini terlihat dengan adanya bangunan-bangunan yang menunjang keberadaan industri tersebut.

“Setelah terdaftar nanti maka wisatawan akan datang dengan sendirinya untuk menyaksikan keberadaan kota tua ini,” kata Gubernur yang juga hafidz Al Quran ini.

Irwan menyakini keberadaan warisan dunia pada beberapa daerah yang ada di dunia dapat memikat wisatawan untuk datang berkunjung. “Peninggalan sejarah yang ada di Sawahlunto tidak kalah menarik dengan beberapa warisan dunia yang ada di negara lain, makanya Sawahlunto menjadi begitu berpotensi,” katanya.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan (Disbud) Sumatera Barat, Taufik Effendi mengatakan pihaknya tengah menfasilitasi beberapa objek yang akan menunjang keberadaan tambang batu bara Sawahlunto ini.

Beberapa objek yang dimaksud adalah jalur kereta api dari Sawahlunto menuju Padang, serta Pelabuhan Teluk Bayur yang menjadi tempat berlabuhnya kapal yang akan membawa batu bara yang ditambang di Sawahlunto.

Selanjutnya, ia menjelaskan, beberapa tahun yang lalu pengusulan tambang batu bara Ombilin Sawahlunto sebagai warisan dunia sudah dilakukan, namun ditolak karena masih ada yang belum lengkap.

“Setelah ini akan diadakan kesepakatan antara pemerintah provinsi dengan beberapa kabupaten kota yang yang terlibat, selain itu kita juga akan didampingi oleh tim ahli cagar budaya,” katanya.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Batusangkar, Sumatera Barat, Nurmatias mengatakan, tambang batu bara Ombilin Sawahlunto berpotensi diterima oleh Unesco sebagai warisan budaya dunia.

“Karena saat ini Sawahlunto merupakan satu-satunya nominasi dari Indonesia yang diusulkan ke Unesco sebagai warisan budaya dunia,” tambahnya.

Ia mengatakan sebelumnya ada dua nominasi yang diusulkan dari Indonesia, yaitu Kota Tua Jakarta dan Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto.

Akan tetapi dalam perosesnya, kota tua Jakarta mengundurkan diri sehingga Sawahlunto menjadi satu-satunya nominasi sehingga berpotensi untuk dicatat sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco.

“Hingga 28 September 2017 nanti seluruh pihak terkait harus bekerja maksimal dan berpacu dengan waktu untuk mengupayakan kelengkapan data dalam pengusulan,” katanya.

Selanjutnya, Nurmatias menjelaskan dalam pengusulan ini akan dilakukan perluasan wilayah guna menambah nilai tawar bagi Sawahlunto untuk kemudian bisa diterima.

Perluasan wilayah dilakukan hingga ke daerah Kabupaten Tanah Datar, Kota Padang Panjang, Kabupaten Padang Pariaman dan Kota Padang.

Menurutnya beberapa kabupaten/kota tersebut merupakan daerah yang dilewati oleh jalur kereta api yang pernah membawa hasil tambang dari Sawahlunto menuju Pelabuhan Teluk Bayur yang ada di Padang.

“Untuk menambah nilai tawar terhadap Kota Tambang Sawahlunto maka kemudian dilakukan perluasan pada beberapa aspek, salah satunya adalah dengan memasukkan jalur kereta api yang memiliki peran penting dalam industri tambang batu bara masa itu,” katanya.

Kenali Sawahlunto Situs Wikipedia menyebutkan Sawahlunto adalah di Sumatera Barat yang terletak 95 km sebelah Timur laut kota Padang dan dikelilingi kabupaten Sijunjung, Solok, dan Tanah Datar.

Kota ini memiliki luas 273,45 kilometer persegi terdiri dari empat kecamatan berpenduduk sekitar 54.000 jiwa.

Pada masa penjajahan Belanda, kota ini lokasi tambang batu bara. Kini Sawahlunto berkembang menjadi kota wisata tua yang multi etnik, sehingga jadi salah satu destinasi terbaik di Indonesia.

Sawahlunto didirikan pada tahun 1888 dan di tempat ini banyak berdiri bangunan-bangunan lama peninggalan Belanda.

Sebagian telah ditetapkan sebagai cagar budaya untuk mendorong pariwisata dan mencanangkan “Sawahlunto Kota Wisata Tambang yang Berbudaya”.

Salah bangunan lama itu adalah Gedung Pusat Kebudayaan Sawahlunto dan Kantor PT Bukit Asam Unit Pertambangan Ombilin yang dibangun tahun 1916.

Di sana juga terdapat dapur umum yang dahulunya memproduksi makanan bagi ribuan pekerja paksa dan stasiun kereta api untuk pengangkutan batu bara. Dua bangunan itu dijadikan museum pada 2005 dengan nama Museum Gudang Ransum dan Museum Kereta Api Sawahlunto.

Juga ada bangunan pusat pembangkit listrik berdiri sejak tahun 1894, dan pada 1952 dijadikan masjid dengan nama Masjid Agung Nurul Islam atau dikenal Masjid Agung Sawahlunto.

Tempat ibadah kaum muslim itu memiliki satu kubah besar yang dikelilingi empat kubah berukuran lebih kecil, dengan menara setinggi sekitar 80 meter.

Kegiatan tambang batu bara di kota ini juga meninggalkan bangunan-bangunan tua seperti silo. Silo berfungsi sebagai penimbun batu bara yang telah dibersihkan dan siap diangkut ke pelabuhan laut Teluk Bayur.

Sampai kini silo itu masih berdiri kokoh di tengah kota, meski tak lagi berfungsi, namun sirene pada Silo tetap berbunyi setiap pukul 07.00, 13.00, dan 16.00 waktu setempat, dimana di masa penjajahan Belanda, sirene silo itu tanda jam bagi para “Orang Rantai” atau narapidana yang dijadikan kuli pengambil batu bara.

Destinasi unggulan yang ada di kota ini adalah atraksi wisata tambang, di mana pengunjung dapat di Sawahlunto adalah bekas lokasi tambang batubara yang dibangun pada masa penjajahan Belanda.

Objek ini dinamai Lubang Suro, mengabadikan nama seorang mandor pekerja paksa, Mbah Suro yang dilenkapi Gedung Info Box menyediakan berbagai informasi dan dokumentasi sejarah tambang batu bara di kota ini.

Sawahlunto juga memiliki kebun binatang dengan luas sekitar 40 hektare dan Resort Wisata Kandi seluas 393,4 hektare.

Juga terdapat tiga danau yang terbentuk dari bekas galian penambangan batu bara yaitu Danau Kandi, Danau Tanah Hitam, dan Danau Tandikek. Selain itu ada pula wahana rekreasi keluarga Waterboom Sawahlunto.

United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (Unesco) adalah lembaga dunia di bawah PPB yang mengurusi bidang pendidikan, sains, dan kebudayaan guna meningkatkan rasa saling menghormati yang berlandaskan pada keadilan, peraturan hukum, dan HAM.

 

EDITOR: Arif R

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU