Sementara itu Ima (40) pemilik warung di Jalan Among mengaku sudah sepekan ia tidak mendapatkan pasokan elpiji tiga kilogram dari langganannya yang mengaku pemilik pangkalan di Sigunggung karena langka.
“Ini saya baru dapat Selasa (5/9) harganya sudah naik biasanya Rp19.000/tabung dan saya jual lagi Rp22.000/tabung, sekarang modalnya sudah jadi Rp22.000/tabung terpaksa jual Rp24.000/tabung,” ujarnya singkat.
Di seputar Jalan Fazar Labuh Baru Barat ada beberapa warung kelontong yang memperdagangkan elpiji tiga kilogram dengan harga bervariasi.
Sebut saja Warung Ajo Jalan Fazar dekat Simpang Jalan Rokan hanya memajang satu tabung elpiji tiga kilogram dan satu tabung 12kg. Saat konsumen datang hendak membeli gas, Ajo mengaku hanya punya stok satu lagi tabung melon dan harganya Rp30.000/tabung.
Tidak jauh dari tempat itu ada lagi rumah toko yang menjadi butik dan tempat sanggar senam memajang empat tabung elpiji sepertinya hendak dijual. Saat ditanyai harga ia mematok Rp25.000/tabung, namun ketika dibeli justru pemilik tidak lagi mau menjual gasnya karena alasan untuk dikonsumsi.
Jadi jelas terlihat permainan para pemilik warung dalam mengendalikan harga di tingkat konsumen, mereka menjual dan menawarkan harga tertinggi jika dibeli silahkan, kalau tidak cari ditempat lain, dengan alasan mereka gas langka, jadi mau-tidak mau konsumen akan beli.
Hal inilah yang tidak dapat ditertibkan oleh Pemko Pekanbaru karena dalam Peraturan Wali Kota bahwa sistem distribusi elpiji terakhir hanya pangkalan bukan warung.
“Elpiji di jual oleh warung bukan ranah kami untuk menertibkan, ” kata Masirba.
Masalahnya sekarang bagaimana justru elpiji tiga kilogram banyak dijual di warung yang memang mematok harga suka-suka, sementara pangkalan kosong. (Ant/SU02)
