Yogyakarta Mampu Mengurangi Volume Sampah Rumah Tangga Lebih Dari 20%

YOGYAKARTA, SERUJI.CO.ID – Kota Yogyakarta sudah mampu mengurangi sekitar 21 persen sampah rumah tangga dan menurunkan volume sampah yang dibawa ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir Piyungan menurut Dinas Lingkungan Hidup setempat.

“Namun, kami masih menghadapi masalah dengan banyaknya sampah yang bukan berasal dari warga Kota Yogyakarta. Misalnya warga di perbatasan yang juga ikut membuang sampah di Kota Yogyakarta,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Yogyakarta Suyana di Yogyakarta, Ahad (7/4).

Saat ini, lanjut Suyana, Pemerintah Kota Yogyakarta sudah memiliki Peraturan Wali Kota Yogyakarta Nomor 67 Tahun 2018 tentang kebijakan dan strategi pemerintah dalam pengelolaan sampah untuk mengurangi 30 persen sampah pada 2025.

Pada 2019, potensi timbunan sampah di Kota Yogyakarta diperkirakan mencapai 137.233 ton dan pemerintah kota mematok target pengurangan 20 persen atau 27.447 ton sampah.

Pemerintah kota berupaya mengurangi sampah di antaranya dengan mendorong masyarakat melakukan pengelolaan dan pemilahan sampah sejak dari rumah tangga, memanfaatkan sampah organik menjadi kompos dan membawa sampah anorganik ke bank sampah.

Di Kota Yogyakarta, saat ini sudah ada sekitar 470 bank sampah berbasis rukun warga (RW). Namun, Suyana mengatakan, bank sampah di Kota Yogyakarta tidak sama seperti bank sampah di kota atau kabupaten lain yang rata-rata memiliki semacam gudang untuk menyimpan sampah anorganik.

“Bank sampah di Kota Yogyakarta biasanya berhubungan langsung dengan pelapak atau pengepul. DLH Kota Yogyakarta menyiapkan daftar telepon pelapak. Pengelola bank sampah di wilayah akan langsung menghubungi pelapak jika sampah di wilayah sudah terkumpul. Modelnya seperti itu,” katanya.

Pengelola bank sampah dan masyarakat akan langsung bertransaksi dengan pelapak secara cepat sehingga tidak dibutuhkan gudang khusus untuk menampung sampah.

“Tinggal mengumpulkan warga dan pelapak di tempat dan waktu yang sudah disepakati lalu melakukan transaksi,” katanya.

Sedangkan untuk sampah organik, DLH Kota Yogyakarta juga sudah memiliki rumah kompos. Pupuk yang dihasilkan tidak dijual secara komersial tetapi diberikan secara gratis kepada warga.

“Syaratnya, warga membentuk kelompok untuk bisa mengakses kompos. Tujuannya, supaya warga gemar menanam dan menjadikan Yogyakarta asri,” katanya.

Selain mematok target pengurangan sampah 30 persen pada 2025, sesuai peraturan wali kota, pemerintah kota menargetkan bisa menangani 70 persen hingga 2025.

Suyana berharap, kesadaran masyarakat untuk mengelola dan memilah sampah sejak dari rumah tangga semakin tumbuh, terlebih sudah terjadi beberapa kali permasalahan dengan tidak beroperasinya TPSA Piyungan sehingga DLH Kota Yogyakarta kesulitan membuang sampah. Volume rata-rata sampah yang dibuang ke TPSA Piyungan mencapai sekitar 250 ton per hari.

Sumber:Ant

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Pemimpin Belum Lulus

Ruang Publik yang Manusiawi bersama Pancasila

Indeks dalam konteks ini telah berhasil mengucapkan sayonara pada ide sekularisme.

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Cerita Hamzah Izzulhaq, Pengusaha di Bidang Pendidikan Yang Sukses di Usia Muda

Meski terbilang sukses di usia muda, nyatanya perjuangan Hamzah Izzulhaq tidaklah mudah.

Tentang Korupsi Sektor Publik

Sebenarnya fenomena korupsi sektor publik terjadi di hampir semua Negara. Bukan hanya di Indonesia yang masuk dalam kategori negara yang belum mapan secara ekonomi. Namun korupsi sektor publikpun terjadi di negara yang sangat mapan perekonomiannya seperti Saudi Arabia.