JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Senin, 9 Maret 2026, pasar komoditas global mencatat momen yang tidak akan mudah dilupakan. Harga minyak mentah dunia meledak ke level yang belum pernah tersentuh sejak krisis 2022 — minyak Brent menembus USD113,68 per barel dan WTI Amerika Serikat menyentuh USD113,25 per barel pada pukul 09.20 WIB pagi ini. Dalam dua pekan, Brent telah melesat lebih dari 60% dari posisinya di USD70,85 per barel pada 25 Februari lalu.
Sementara di sisi lain, emas — sang raja aset lindung nilai — justru mencatat koreksi signifikan hari ini, tertekan 2,5% ke level USD5.041,89 per troy ounce. Dua komoditas strategis ini bergerak ke arah berlawanan, namun keduanya bercerita tentang hal yang sama: dunia sedang dalam kondisi darurat energi.
🛢️ Minyak Meledak: Brent $113, WTI $113 — Lonjakan Terbesar Sejak 1983
Perjalanan harga minyak menuju level tiga dijit ini terjadi dengan kecepatan yang mengejutkan bahkan para analis paling berpengalaman sekalipun. Brent yang masih berada di USD70,85 per barel pada 25 Februari, merangkak ke USD72,48 pada 27 Februari, melonjak ke USD77,74 pada 2 Maret, USD81,40 pada 3-4 Maret, USD85,41 pada 5 Maret, USD92,69 pada 6 Maret.
Dan akhirnya menembus angka psikologis USD100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022 — langsung melejit ke USD113,68 pada Senin, 9 Maret 2026, pagi ini. WTI bergerak serupa, dari USD65,42 pada 25 Februari menjadi USD113,25 hari ini. Kenaikan mingguan WTI pekan lalu tercatat sekitar 35% dalam satu minggu — kenaikan mingguan terbesar dalam sejarah perdagangan futures sejak tahun 1983.
Pemicu utamanya sudah jelas: penutupan Selat Hormuz. Konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang pecah sejak akhir Februari 2026 memaksa Iran menutup jalur perairan yang selama ini menjadi nadi energi dunia — mengalirkan sekitar 20 juta barel minyak dan produk petroleum per hari, atau sekitar seperlima dari seluruh konsumsi minyak global.
Lalu lintas kapal tanker di selat itu hampir terhenti total akibat gabungan dari ancaman keamanan, masalah asuransi kapal, dan ketidakpastian operasional. Analis memperkirakan 7 hingga 11 juta barel per hari sementara hilang dari pasar global — sebuah guncangan pasokan yang belum pernah terjadi dalam skala ini sejak Perang Teluk 1991.
Respons produsen minyak regional pun tidak kalah dramatis. Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi menyampaikan kepada Financial Times bahwa para eksportir Teluk akan terpaksa menghentikan produksi dalam hitungan hari jika kapal tanker tidak bisa melewati Selat Hormuz.
Arab Saudi bereaksi dengan menaikkan harga minyak untuk pembeli Asia sekaligus mengalihkan pengiriman melalui jalur Laut Merah sebagai rute alternatif yang lebih aman.
Di sisi permintaan, Jepang, Korea Selatan, dan India — tiga importir minyak terbesar Asia — tengah dalam kondisi darurat energi dan berlomba mengamankan pasokan dari sumber alternatif, termasuk dari cadangan strategis negara masing-masing.
