Minyak Tembus $113, Emas Koreksi — Pasar Energi Gila-Gilaan

🌏 Dampak ke Indonesia: BBM, APBN, dan Inflasi yang Mengintai

Bagi Indonesia, lonjakan harga minyak ke level USD113 per barel adalah sinyal bahaya yang tidak bisa diremehkan. Indonesia adalah negara net importir minyak — artinya, kenaikan harga minyak dunia secara langsung memperbesar tagihan impor energi nasional.

Pengamat komoditas Ibrahim Assuaibi memperingatkan bahwa dengan harga minyak di atas USD100 per barel, potensi pelebaran defisit APBN bisa mencapai 3,6% dari PDB — jauh di atas target pemerintah 2,7% — jika pemerintah tetap mempertahankan stabilitas harga BBM bersubsidi di dalam negeri. Dengan kata lain: ada dua pilihan sulit di depan mata pemerintah — menaikkan harga BBM yang berdampak langsung ke daya beli masyarakat, atau mempertahankan harga BBM dengan konsekuensi subsidi membengkak dan defisit melebar.

Ancaman inflasi impor pun semakin nyata. Setiap kali harga minyak naik, biaya produksi dan distribusi hampir semua barang ikut meningkat — dari ongkos logistik, harga pupuk untuk petani, tarif listrik industri, hingga tiket transportasi umum.

Di tengah rupiah yang sudah tertekan di Rp17.000-an per dolar, kombinasi minyak mahal ditambah mata uang lemah menciptakan tekanan ganda yang bisa mendorong inflasi lebih cepat dari perkiraan Bank Indonesia. BI sendiri menargetkan inflasi 2026 di kisaran 1,5–3,5% — target yang kini terlihat semakin berat untuk dipertahankan.

Di sisi lain, kenaikan harga emas membawa kabar baik bagi sebagian segmen masyarakat Indonesia. Para pemegang emas fisik — baik dalam bentuk emas Antam, perhiasan, maupun tabungan emas digital — secara nominal menikmati kenaikan nilai aset yang signifikan.

Emas Antam yang saat ini di Rp3.004.000 per gram masih jauh di atas level Rp1.700.000-an setahun lalu. Momentum Ramadhan yang kian dekat juga diprediksi menambah tekanan permintaan emas domestik — secara historis, masyarakat Indonesia cenderung meningkatkan akumulasi emas fisik menjelang Idul Fitri.

Ibrahim Assuaibi memprediksi harga emas Antam berpotensi menguji level Rp3,4–3,5 juta per gram jika konflik Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda de-eskalasi.

🔮 Prediksi: Ke Mana Minyak dan Emas akan Bergerak?

Untuk minyak, konsensus analis saat ini terbagi ke dalam tiga skenario. Skenario bullish — yang saat ini paling dominan — memperkirakan Brent bergerak ke kisaran USD120–128 per barel jika Selat Hormuz tetap terganggu lebih dari dua minggu. Bahkan, dalam skenario eskalasi penuh, WTI berpotensi mendekati level puncak historisnya di sekitar USD130,50 per barel yang pernah dicatat pada 2022.

Menteri Energi AS Chris Wright memang menyatakan optimisme bahwa lalu lintas kapal tanker bisa normal kembali dalam beberapa minggu ke depan setelah kemampuan Iran untuk mengancam kapal berhasil dilemahkan. Namun ia sendiri mengakui kondisi pasar energi saat ini masih “jauh dari stabil.”

Untuk emas, JP Morgan dalam laporan terbarunya memproyeksikan logam mulia ini bisa menyentuh USD6.300 per troy ounce pada akhir tahun 2026 jika ketidakpastian geopolitik dan defisit fiskal Amerika Serikat terus memburuk.

Analis Ibrahim Assuaibi lebih konservatif namun tetap bullish — memperkirakan emas akan menguji level USD5.500 dalam pekan ini jika perang berlanjut. Secara teknikal, selama level support kritis di USD4.842 per troy ounce tidak tertembus, struktur tren bullish emas dinyatakan masih utuh. Koreksi hari ini dipandang sebagai peluang akumulasi bagi investor jangka menengah-panjang, bukan sinyal pembalikan tren.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER