“Jadi menurut saya, tentu ada kolerasinya antara lemak yang kita konsumsi dengan kadar kolesterol dalam darah,” kata dr. Sarno lewat pesan tertulis kepada SERUJI, Sabtu (4/11)
Konsumsi lemak yang berlebih, lanjut dr. Sarno, akan meningkatkan kadar kolesterol dalam darah. “Ada dua jenis kolesterol, yang dalam bahasa awam disebut kolesterol baik dan kolesterol jahat,” jelasnya.
Magister Gizi lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta dengan spesialisasi Gizi Klinik (Clinical Nutrition) ini mengungkapkan bahwa kolesterol baik seperti efa, dha, omega 3,6,9 dan asam linoleat, tidak masalah bila banyak terdapat dalam darah, sehingga profil lemak pun akan baik-baik saja.
“Tetapi bila yang banyak kadarnya di dalam darah adalah kolesterol jahat, maka akan beresiko terkena serangan stroke, Jantung dan lain-lain,” ungkapnya.
Terkait dengan tulisan yang beredar di Whatsapp yang memperingatkan agar waspada terhadap konsumsi karbohidrat, dokter penggemar tenis meja ini menjelaskan bahwa karbohidrat dicerna dan diserap usus sebagian besar dalam bentuk glukosa.
Glukosa jika digunakan masuk dalam siklus kreb, dan hasil akhirnya berupa energi, air dan beberapa oksidan (Onasen). Jika berlebih atau tidak digunakan, maka glukosa akan disimpan dalam bentuk glikogen dalam hati dan otot, serta dirubah menjadi lemak dan disimpan di bawah kulit.

Oooo….begitu ya Dok….