Gerakan Mahasiswa dan Ancaman Revolusi Sosial di Indonesia

Dr. Syahganda Nainggolan, Sabang Merauke Circle.

SERUJI.CO.ID – Mahasiswa telah digebuki polisi di beberapa daerah ketika melakukan demonstrasi menuntut Jokowi memperbaiki kondisi ekonomi dan bahkan menuntut Jokowi mundur.

Merespon kejadian ini, ketua Badan Eksekutif Mahasiswa se Indonesia, Fauzul Adzim, membuat rilis yang isinya mengecam pemerintahan Jokowi yang mengebiri demokrasi dan meminta Kepala Polisi RI (Kapolri) Jendral (Pol) Tito Karnavian tidak main gebuk orang-orang (mahasiswa) yang menjalankan demokrasi serta menghukum polisi yang melakukan kekerasan. BEM SI ini juga menuntut Jokowi agar meminta maaf pada seluruh mahasiswa Indonesia.

Gerakan mahasiswa saat ini kita lihat mulai marak dan menjalar ke seluruh pelosok negeri. Fenomena ini menarik, meskipun tahun-tahun sebelumnya ada juga gerakan mahasiswa, namun tidak sebesar dan seradikal yang saat ini ada.

Mengapa Ada Gerakan Mahasiswa?


Bagaimana kita memahami fenomena ini? Tentu banyak sebab yang dapat kita selidiki, tapi dua hal sebagai berikut penting diperhitungakan

Pertama, kita berasumsi bahwa kesadaran politik mahasiswa yang hilang selama ini muncul kembali. Kemunculan ini disebabkan faktor kesejarahan yang menempatkan mahasiswa kita sebagai “avant garde” dalam mendorong kebangkitan bangsa.

Kedua, kita dapat juga menelisik kepada kepentingan kolektif mahasiswa itu sendiri, dengan melihat adanya kegagalan universitas dan dunia kerja memberikan kesesuaian antara apa yang diimpikan mahasiswa setelah lulus dengan fakta lapangan kerja yang ada.

Kedua hal di atas, sebagai sebab ataupun motivasi terjadinya gerakan mahasiswa belakangan ini adalah sesuatu yang sah. Dalam kesadaran kesejarahannya, mahasiswa di negara-negara berkembang umumnya mengambil peran sebagai pahlawan dalam menuntut keadilan. Sebenarnya ini bukan hanya terbatas pada negara berkembang saja, jika kita melihat peran mahasiswa di Amerika semasa perang Vietnam tahun 60-70 an dengan geraknan Occupy (Wallstreet lalu Campus) beberapa tahun lalu. Kedua peristiwa berbeda jaman itu melahirkan kesadaran perjuangan mahasiswa menegakkan keadilan.

Di Hongkong juga, beberapa tahun lalu, gerakan mahasiswa menentang pemerintah pusat RRC atas sikap otoriter dalam menentukan kepemimpinan Hongkong, menyebabkan gerakan mahasiswa menguasai Hongkong dalam waktu yang lama.

Di Eropa, dalam kaitan dengan krisis ekonomi dan isu “immigrant“, mahasiswa juga banyak melakukan protes sosial.

JADI, SESUNGGUHNYA GERAKAN MAHASISWA TIDAK BISA PUNAH ATAU USANG. SEPANJANG ADANYA KETIDAKADILAN ATAU PERSOALAN SOSIAL, MEREKA PASTI AKAN HADIR KEMBALI. APALAGI JIKA DIKAITKAN HANCURNYA INSTITUSI POLITIK KITA, YANG KORUP DAN JAHAT SAAT INI.

Kegelisahan mahasiswa jika dikaitkan dengan masa depan mereka yang semakin buruk, bisa juga jadi bersifat komplementer atas eksistensi kesadaran politik mereka. Tahun ini, menurut BPS, terjadi peningkatan sarjana menganggur. Tahun 2018, sekitar 8% atau 660.000 dari 7 juta sarjana menganggur karena tidak dapat diserap lapangan kerja yang layak. Banyak sarjana diberitakan bekerja sebagai buruh Gojek. Sesuatu yang memilukan bagi masa depan yang dibayangkan mahasiswa.

Hal ini tentu dipersepsikan mahasiwa sebagai kegagalan pemerintah menciptakan pilihan pembangunan yang menyerap pencari kerja. APINDO sendiri tahun lalu merilis hanya mampu menyerap 500 ribu tenaga kerja formal. Jauh di bawah angka 2,5 juta pencari kerja baru. Dan sarjana umumnya berekspektasi akan menjadi pekerja formal dan pekerja tetap.

Kesadaran politik mahasiswa yang bercampur dengan kegelisahan akan masa depan tentu keduanya mendorong fenomena gerakan mahasiswa ini. Jika keduanya berhimpit atau menjadi sumber kesadaran pada saat bersamaan, maka militansi mereka semakin besar.

Namun, faktor kerisauan masa depan tersebut tidak menggugurkan idealisme mahasiswa sebagai pejuang kebangsaan, sesuai takdir sejarahnya.

Revolusi Sosial

Mahasiswa adalah mahluk dengan “banyak nyawa” dalam konteks keberaniannya. Sebagai sosok jiwa muda, mereka memang menikmati militansi dan radikalis gerakan. Adalah salah besar memikirkan mereka menjadi takut ketika darah darah mereka bercucuran di jalan. Darah-darah mereka itulah sumber inspirasi perjuangan mereka menggelembung menjadi besar. Berbeda dengan kriminal ataupun teroris, mahasiswa meyakini takdir mereka secara politik untuk perbaikan bangsa.

Persoalannya adalah pertama, apakah membungkam gerakam mahasiswa ini memang diperlukan dalam sebuah demokrasi. Menurut saya, yang perlu dilakukan adalah dialog yang saling menghargai antara rezim dengan para mahasiswa tersebut. Agar demokrasi tetap dalam koridor yang kita kelola.

Kedua, bagaimana agar ekskalasi gerakan mahasiswa tidak mengganggu suasana pemilu? Tanpa membatasi hak hak mereka menyatakan pendapat? Ini adalah ujian serius bagi rezim Jokowi, mengkanalisasi tuntutan mahasiswa tersebut, baik dengan memperbanyak dialog, maupun memeriksa kesesuaian target universitas dengan lapangan kerja ke depan.

Apabila ini tidak berhasil, maka ekskalasi gerakan mahasiwa bisa mengarah ke revolusi sosial. Kenapa? karena suasana pemilu saat ini berada pada ketegangan sosial yang tinggi. Jika gerakan mahasiswa tidak dapat dikanalisasi, maka ketegangan di masyarakat dapat berhimpit dengan ekskalasi gerakan mahasiswa tersebut pada tema-tema revolusioner yang dibawa mahasiswa.

KITA TIDAK PERLU MEMBIARKAN GERAKAN MAHASISWA INI MENJADI GERAKAN BESAR DAN RADIKAL DALAM MASA PEMILU.

Penutup

Mahasiswa dan gerakannya adalah “avant garda” (garda terdepan) dalam sejarah perubahan sosial. Jangan pernah melupakan hak kesejarahan mereka. Biasanya jika gerakan mahasiswa marak, kita harus intropeksi ada sumbatan dalam demokrasi yang ada.

Tugas kita untuk mengkanalisasi peran besar kesejarahan mahasiswa ini untuk tetap eksis, sebagai kekuatan moral (moral force) yang mengingatkan kita semua untuk mengarahkan kembali kiblat bangsa.

Namun, dalam suasan pemilu yang memiliki ketegangan sendiri, kita perlu men “detach” gerakan mahasiwa hingga berjalan dalam koridor yang tidak mengganggu suasana pemilu.

Perlu upaya kolektif.

KONSULTASI

Wanita Muda Kaki Sering Kesemutan dan Perut Bagian Bawah Sakit, Gejala Apa?

Dokter, sudah 4 hari ini kaki saya terasa kebas dan gampang kesemutan. Juga perut saya bagian bawah terasa sakit. Kira-kira sakit apa ya dok?
Loading...

Kolom dr. Irsyal, Sp PD

Ibu Muda Ini Sudah Harus Cuci Darah, Inilah Penyebabnya

Usia masih muda, tapi wanita ini sudah harus menjalani cuci darah rutin. Apa penyebabnya? simak penjelasan dr. Irsyal Rusad., dokter spesialis penyakit dalam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

Baca Juga

Wanita Muda Kaki Sering Kesemutan dan Perut Bagian Bawah Sakit, Gejala Apa?

Dokter, sudah 4 hari ini kaki saya terasa kebas dan gampang kesemutan. Juga perut saya bagian bawah terasa sakit. Kira-kira sakit apa ya dok?

Jokowi, Propaganda Rusia dan Rand Corporation

Penggunaan istilah Propaganda Rusia ini menjadi masalah besar sebab dalam kapasitas apa Jokowi menyatakan hal tersebut? Apakah sebagai Presiden Republik Indonesia atau sebatas calon presiden (Capres)?

12 TPS di Wilayah Kabupaten OKU Tercatat Rawan

SUMATERA SELATAN, SERUJI.CO.ID - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Ogan...

Nilai Puisi Fadli Menista Mbah Moen, Ribuan Santri di Bogor Alihkan Dukungan ke Jokowi

Di antara mereka yang hadir adalah ratusan perwakilan santri dari Cisarua. Santri dari daerah yang merupakan tempat kediaman Fadli Zon itu merasa malu dan kecewa.

Ragukan Survei Indomatrik, Romahurmuziy: Beneran atau Imajinatif?

Tak percaya Rommy dengan hasil survei Indomatrik yang tunjukkan elektabilitas Prabowo makin pepet Jokowi.

Bentuk Satgas, Dewan Pers Akan Berantas Media Abal-Abal

Dewan Pers segera membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk memberantas media yang tidak resmi alias abal-abal dan merusak citra media resmi

Sambut Putra Mahkota Saudi, 307 Personil Polisi Disiapkan Untuk Pengamanan

Sebanyak 307 personel kepolisian akan diturunkan untuk membantu pengamanan Putra Mahkota Kerajaan Arab Saudi Mohammed bin Salman

Kasasi Ditolak MA, Akhirnya HTI Resmi Dilarang Berkegiatan di Indonesia

Final, HTI tidak boleh lagi beraktifitas di Indonesia...

Nilai Puisi Fadli Menista Mbah Moen, Ribuan Santri di Bogor Alihkan Dukungan ke Jokowi

Di antara mereka yang hadir adalah ratusan perwakilan santri dari Cisarua. Santri dari daerah yang merupakan tempat kediaman Fadli Zon itu merasa malu dan kecewa.

Ragukan Survei Indomatrik, Romahurmuziy: Beneran atau Imajinatif?

Tak percaya Rommy dengan hasil survei Indomatrik yang tunjukkan elektabilitas Prabowo makin pepet Jokowi.

Survei Indomatrik: Elektabilitas Prabowo Makin Pepet Jokowi, Selisih Hanya 3,93 Persen

Menurut Indometrik, elektabilitas Prabowo-Sandiaga makin memepet Jokowi-KH Ma'ruf, dan saat ini hanya terpaut 3,93 persen.

Diperiksa Bawaslu, Ganjar Mengaku Tidak Ajak Kepala Daerah Dukung Jokowi

Selain itu, ada pula pertanyaan apakah Ganjar mengajak kepala daerah untuk mendukung pasangan capres Jokowi-Amin dan dijawab tidak.

TERPOPULER

Kunjungi Brebes, Sandiaga Dikeluhkan Petani Tebu Soal Impor Gula

Petani tebu di Brebes, Jawa Tengah memanfaatkan bertemu dengan cawapres paslon nomor urut 02, Sandiaga Uno untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi akibat kebijakan gula impor.

Lantik Gubernur-Wagub Jatim, Jokowi Perintah Khofifah-Emil Langsung Tancap Gas

Akhirnya Khofifah resmi jadi Gubernur Jatim gantikan Pakde Karwo, setelah dua kali dikalahkan Pakde Karwo-Saifullah Yusuf.

Nilai Puisi Fadli Menista Mbah Moen, Ribuan Santri di Bogor Alihkan Dukungan ke Jokowi

Di antara mereka yang hadir adalah ratusan perwakilan santri dari Cisarua. Santri dari daerah yang merupakan tempat kediaman Fadli Zon itu merasa malu dan kecewa.

Tahun Ini, Pemerintah Berikan 1,2 Juta Sambungan Listrik Gratis Bagi Warga Miskin

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan menyatakan pemerintah menyiapkan 1,2 juta sambungan listrik gratis bagi masyarakat miskin yang belum tersambung listrik di tahun 2019.