Psikolog: Rasa Marah Itu Wajar, Tapi Menjadi Keliru Jika Sampai Membunuh

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Nailatin Fauziyah, pengamat Psikologi sosial menjelaskan bahwa perilaku marah yang muncul sebagai hal wajar, namun menjadi tidak tepat ketika perilaku cenderung melukai orang lain.

“Marah itu kan ekpresi natural. Natural dalam arti ketika seseorang diperlakukan tidak adil maka muncul emosi marah, tapi kemudian menjadi ini tepat atau tidak, adalah terletak pada implementasinya. Apakah orang marah harus membunuh orang? nah yang salah disitu, tapi kalau marahnya manusiawi. Itu yang harus dibedakan,” katanya saat ditemui SERUJI, Rabu (7/2) sore.

Hal itu disampaikan Nailatin Fauziyah terkait peristiwa penganiayaan seorang Guru oleh muridnya, Hl, hingga tewas, yang baru baru ini terjadi di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura.

Dosen Psikologi UIN Sunan Ampel Surabaya itu memprediksi pola asuh yang dikembangkan oleh keluarga si pelaku cenderung kearah agresivitas.

“Bisa pola asuh yang dikembangkan keluarga. Jadi misalnya pola asuh keluarga, jika kecenderungan agresivitas menjadi pilihan untuk mengatasi kemarahan,” lanjut aktivis perlindungan perempuan asal Jombang itu.

Nailatin menyebutkan perilaku mengatasi situasi marah dalam diri Hl disebut coping behaviour. Namun sayangnya coping behaviour yang dipilih Hl, adalah dengan menyerang gurunya.

Pengurus LTN PWNU Jatim itu menegaskan cara Hl dalam mengatasi rasa marah dengan memukul dan menyerang guru bisa diperoleh dari proses belajar.

“Perilaku mengatasi, namanya coping behaviour, ketika dia berada dalam situasi emosi, cara mengatasinya seperti apa. ini didapat dari proses belajar. Belajar dari mana? Bisa dari orang tua, lingkungan terkecil, media, lingkungan masyarakat. Nah ini aspek lingkungan mempengaruhi,” tegasnya.

Ia melanjutkan jika membaca perilaku yang muncul dalam kasus tersebut, tergantung sudut pandang psikologi apa yang digunakan. Sudut pandang humanistik, mengartikan bahwa manusia pada dasarnya baik. Namun sudut pandang behaviouristik, manusia pada dasarnya dibentuk oleh lingkungan.

“Kalau mengacu pada humanistik itu potensi dasar manusia adalah baik. Tapi kalau behaviour adalah murni lingkungannya. Jadi yang membentuk dia agresi seperti apa?” tandas Nailatin di ruang kerjanya Fakultas Psikologi dan Kesehatan UIN Sunan Ampel Surabaya. (Luh/Hrn)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Inilah 4 Keuntungan Membeli Apartemen Tipe Studio

Tinggal di apartemen saat ini sudah menjadi gaya hidup. Lokasi yang strategis dan ditunjang dengan berbagai fasilitas kemudahan menyebabkan banyak masyarakat urban, khususnya para eksekutif muda tertarik untuk tinggal di hunian vertikal.

Aksi Solidaritas Jurnalis-Aktivis di Pengadilan Tinggi Kalsel: Diananta Tidak Sendiri

Para aktivis dan jurnalis terus menggelar aksi solidaritas untuk mantan Pemred Banjarhits, Diananta Putera Sumedi yang disidang sebab menulis berita konflik lahan masyarakat adat versus perusahaan.

Masuki Masa Transisi New Normal, AMSI Jatim Keluarkan 7 Poin Imbauan

Mencermati perkembangan penyebaran Covid-19 di masa transisi New Normal yang semakin meningkat, AMSI Jawa Timur, mengeluarkan 7 poin imbauan.

CFD Kembali Ditiadakan, Fahira: Review dan Evaluasi Kunci Jakarta Kendalikan Covid-19

Senator DKI Jakarta Fahira Idris mengapresiasi keputusan Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta yang kembali meniadakan sementara kegiatan car free day (CFD).

Inilah 5 Kota Yang Jadi Incaran Calon Pembeli Rumah Saat Pandemi Covid-19

Pandemi corona telah mengubah wajah bisnis tanah air, termasuk sektor properti. Jika dulu orang membeli rumah harus datang ke lokasi proyek, sekarang tidak lagi.

Senator DKI: Pasar Harus Jadi Area Paling Aman dari Penyebaran Corona

Pencegahan penyebaran corona di pasar termasuk pasar tradisional menjadi salah satu langkah strategis dan efektif untuk menahan laju dan menghentikan penularan dan penyebaran Covid-19 di Indonesia

TERPOPULER