Sayangnya, “rekayasa kapabilitas” dilakukan dengan “teknologi Sumatra” yang masih kasar. Seharusnya, rekayasa bisa dikerjakan tanpa harus mengekspos problem serius Pak Jokowi dalam hal kapabilitas itu. Dengan gaya komentar sana-komentar sini, marah sana-marah sini, Pak LBP bukannya menolong Pak Jokowi untuk menyembunyikan masalah fundamental yang beliau hadapi, melainkan membeberkan secara terbuka kelemahan-kelemahan itu.

luhut binsar panjaitan
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan

Padahal, LBP bisa bermain cantik tanpa harus beliau sendiri yang maju di setiap persoalan yang berkaitan dengan kemacetan tugas kepresidenan. Tanpa harus menunjukkan bahwa beliau, Pak LBP, mendapat mandat khusus yang sangat besar dari Presiden Jokowi. Tetapi, begitulah proses yang berlangsung. Begitulah pilihan mereka.

Bisa jadi keduanya bersepakat bahwa LBP harus bekerja seperti sekarang ini. Hanya saja, pilihan gaya “trouble shooter” yang diperankan LBP menunjukkan Pak Jokowi meyakini bahwa LBP lebih didengarkan, ditakuti, dan disegani ketimbang beliau sendiri. Sesuatu yang sangat ironis.

Pengeksposan kelemahan Pak Jokowi melalui kehadiran LBP dengan kekuasaan besar “berteknologi Sumatra”, mengukuhkan anggapan bahwa kapabilitas Pak Jokowi hanya terfokus pada public relation. Dalam hal ini, kita akui bahwa Pak Jokowi bisa cepat akrab dengan khalayak. Disukai oleh ibu-ibu yang merasa selama hari ini sulit menjumpai presiden.

Inilah kekuatan yang beliau andalkan. Pak Jokowi adalah vote-getter yang sangat efektif. Gaya blusukannya membuat media ikut terkagum-kagum. Kemampuan blusukan itulah yang diviralkan.

10 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama