Unlimited power yang dipegang oleh Pak LBP mengkonfirmasikan pula bahwa kevisioneran Pak Jokowi, mohon maaf, absen sejak awal. Yang juga absen adalah “strong leadership” –kepemimpinan yang kuat. Kalau ketiadaan “strong leadership” itu hanya di lingkungan kabinet, masih bisa diatasi dengan “teknologi Sumatra” merek LBP.

Yang berbahaya adalah ketiadaan “strong leadership” ketika menghadapi rakyat secara langsung. Pengertian “leadership” di sini ialah kemampuan untuk selalu berada di depan, selalu unggul, atau di atas, ketika Pak Jokowi berada di hadapan khalayak yang memiliki “intellectuality threshold” (ambang batas intelektualitas) yang relatif tinggi. Problem kapabilitas mudah terekspos.

Ketereksposan “intellectuality threshold” itu pada gilirannya berakibat pada proyeksi karisma, penggambaran karisma. Sedangkan “being charismatic” (berkarisma) merupakan komponen terpenting di dalam bangunan “presidential personality” –personalitas kepresidenan.

Lantas, bagaimana selanjutnya? Sederhana saja. Seluruh rakyat Indonesia wajar memikirkan kelanjutan situasi yang sedang berlangsung saat ini. Sebab, presiden adalah produk demokrasi one-man, one vote. Rakyatlah yang menentukan siapa yang akan pilih dalam Pilpres.

Anda semualah yang akan menentukan apakah kepresidenan bergaya LBP dilanjutkan, atau mengubah Indonesia menjadi negara yang memiliki presiden yang karismatik dengan kapabilitas prima.

 

*) Penulis adalah wartawan senior

(Hrn)

10 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama