Koyo Madu untuk Luka Kanker

KHARAGPUR – Manfaat madu sudah tertulis di Quran. Ibnu Sina (890-1037) juga banyak mengulas manfaat madu dari segi kesehatan dan dunia kedokteran. Sekarang, sekelompok ilmuwan India bahkan sudah mengaplikasikan madu sebagai formula untuk mengobati luka hasil operasi kanker mulut. Hasil penelitian ini segera dikomersialkan.

Koyo madu ditempelkan di bekas luka operasi kanker.

Kelompok riset antar-disiplin, yang terdiri dari insinyur kimia, pakar bio-teknologi dan dokter dari Institut Teknologi India di Kharagpur, mengembangkan koyo terapi yang terbuat dari sutra dan madu. Eksperimen di laboratorium menunjukkan koyo tempel itu tidak hanya menyembuhkan luka kanker lebih cepat, tetapi juga meminimalkan kemungkinan kambuhnya kanker baru setelah intervensi bedah kanker di mulut.

“Madu terkenal karena potensi penyembuhannya yang luar biasa atas luka, dan punya sifat anti-kanker dan anti-bakteri. Teknologi yang terlibat dalam proses ini berupa modulasi lingkungan sel dengan cara menggunakan perban koyo yang dirancang secara biometris berbahan madu dan serat sutra,” kata Monika Rajput, peneliti Institut Teknologi India, dikutip Kashmir Monitor.

Konsep teknologi nano lunak untuk koyo dirancang oleh profesor Rabibrata Mukherjee, sedangkan ide menggunakan madu berasal dari Jyotirmoy Chaterjee.

“Banyak pasien harus operasi bedah saat kena kanker mulut. Setelah bagian tubuh yang kena kanker diangkat, itu meninggalkan luka. Di bagian luka itu mungkin masih memiliki beberapa sel kanker atau tersisa sel pra-kanker. Maka, kemungkinan masih besar untuk kena kanker lagi,” kata Nandini Bhandaru, salah satu peneliti. “Teknologi kami membantu pasien mengontrol luka-luka bekas operasi kanker ini.”

Saat ini, belum ada terapi koyo terutama untuk kanker mulut yang dapat menyembuhkan luka lebih cepat dan meminimalkan kemungkinan kambuh. Maka, tim ini segera mengajukan paten dan riset mereka telah dipublikasikan dalam jurnal internasional American Chemical Society.

Namun, sebelum mengkomersialisasikan teknologi ini, para ilmuwan masih harus melakukan percobaan pada hewan dan kemudian pada pasien manusia. “Di laboratorium, alat ini sudah bisa mengaktifkan pertumbuhan sel-sel sehat. Sementara, struktur mikropillar yang berpola dalam koyo ini menghambat pertumbuhan sel kanker,” kata para peneliti. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Belajar, Bukan Bersekolah

Akhir pandemi belum juga jelas, satu hal sekarang makin jelas: Gedung-gedung megah persekolahan itu makin tidak relevan jika dipaksakan untuk kembali menampung kegiatan bersekolah lagi. Sekolah harus direposisi. Juga guru.

Bertema “Inovasi Beyond Pandemi”, AMSI Gelar Indonesian Digital Conference 2020

Ketua Umum AMSI, Wenseslaus Manggut mengatakan IDC yang digelar AMSI bertujuan untuk melihat sejauh mana berbagai sektor melakukan inovasi di tengah pandemi Covid-19 dan seperti apa ke depan.

Cek Fakta: Debat Pilkada Tangsel, Seluruh Paslon Minim Paparkan Data

Debat pemilihan umum kepala daerah (pilkada) Tangerang Selatan (Tangsel) membeberkan program kerja yang dimiliki para peserta. Sayangnya, dalam debat tersebut masing-masing pasangan calon (paslon) lebih banyak bicara dalam tatanan konsep.

PasarLukisan.com Gelar Pameran Lukisan Virtual Karya Pelukis dari Berbagai Daerah

"Ini adalah solusi yang diharapkan akan memecahkan kebekuan kegiatan kesenian, khususnya pameran seni rupa, akibat pandemi yang belum kunjung berakhir," kata M. Anis,

Paman Donald dan Eyang Joe

Banyak yang usil menyamakan pilpres Amerika dengan Indonesia, termasuk kemungkinan Biden akan mengajak Trump bertemu di MRT dan menawarinya menjadi menteri pertahanan.

Berikut Berbagai Larangan Bagi Penasihat Investasi Yang Diatur dalam Keputusan BPPM

Penasihat Investasi dalam menjalankan kegiatannya harus bersikap hati–hati, dikarenakan terdapat larangan yang harus diperhatikan oleh Penasihat Investasi agar terhindar dari sanksi.

TERPOPULER