Berjuang Bersama Mencegah Stunting

Pada periode 1000 hari pertama kehidupan itu pula perubahan yang terjadi bersifat permanen dan berpengaruh pada dua generasi berikutnya yakni dari nenek ke cucu.

“Dampaknya akan berjangka panjang,” kata anggota Persagi, Tatang S Falah.

Dia menyatakan ada beberapa intervensi spesifik atau campur tangan yang dapat dilakukan untuk perbaikan gizi anak bangsa, yakni dengan sasaran ibu hamil melalui pemberian makanan tambahan pada ibu hamil untuk mengatasi kekurangan energi dan protein kronis, mengatasi kekurangan zat besi dan asam folat, mengatasi kekurangan iodium, menanggulangi kecacingan pada ibu hamil, dan melindungi ibu hamil dari Malaria.

Kemudian dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 0-6 bulan, mendorong inisiasi menyusui dini (pemberian ASI jolong/colostrum), dan mendorong pemberian ASI eksklusif. Juga melakukan intervensi dengan sasaran ibu menyusui dan anak usia 7-23 bulan dengan mendorong penerusan pemberian ASI hingga usia 23 bulan didampingi oleh pemberian MP-ASI, menyediakan obat cacing, menyediakan suplementasi zink, melakukan fortifikasi zat besi ke dalam makanan, memberikan perlindungan terhadap malaria, memberikan imunisasi lengkap, dan melakukan pencegahan dan pengobatan diare.

Sementara itu, Dinas Kesehatan Kota Pontianak mengungkapkan kecenderungan balita stunting di Pontianak tahun 2016 mencapai 17,61 persen dari 8000 balita dengan sebaran tertinggi berada di wilayah Tanjung Hilir-Kampung Dalam, Kecamatan Pontianak Timur yang mencapai 30,33 persen. Di Pontianak ada 56.700 balita. Ada dua dari 10 balita yang stunting.

Kepala Bidang Bina Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Trisnawati, mengungkapkan meski angka status gizi buruk di Pontianak masih di bawah rata-rata nasional, namun tetap harus diwaspadai adanya kemungkinan kondisi menjadi tidak baik.

Ia mengatakan yang menjadi pekerjaan rumah untuk diawasi adalah pola makan para ibu hamil.

“Saat hamil, biasanya ada keinginan yang selalu disebut sebagai keinginan bayi, padahal bayi belum bisa minta makanan. Ibu-ibu cenderung lebih kepada keinginan dan bukan kebutuhan,” imbuhnya. Padahal, tambahnya lagi, kebutuhan ibu hamil adalah dicukupkannya nutrisi untuk melahirkan bayi yang sehat.

Dia mengatakan pengawasan sudah dimulai sejak remaja putri sebelum menstruasi. Karena hasil pengecekan diketahui 2 hingga 3 remaja putri di Pontianak terkena anemia. Maka harus mendapatkan tablet penambah darah.

“Untuk menghasilkan ibu hamil tidak anemia, maka diberilah tablet penambah darah sejak remaja. Di SMP dan SMA,” kata dia lagi.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER