Sembilan Warga Palestina Cedera Akibat Bentrok Dengan Polisi Israel

15
al aqsa
Pasca insiden serangan yang menewaskan tiga pemuda Palestina, Masjidil Aqsa ditutup untuk salat Jumat. (Foto: The Palestinian Information Center)

JERUSALEM, PALESTINA – Kantor berita OANA pada Senin (17/7) melaporkan terjadinya Bentrokan di luar kompleks Masjid Al-Aqsha di Jerusalem Timur, antara warga Palestina dengan polisi Israel pada Jumat (14/7) kemarin sebelum sholat jumat berlangsung.

Menurut kantor berita setempat, hal tersebut terjadi lantaran penguasa Yahudi menerapkan langkah keamanan baru di pintu gerbang Masjid tersebut.

Media Palestina melaporkan sebanyak sembilan orang Palestina cedera akibat bentrokan tersebut. Satu tayangan video di televisi berita Israel, Channel 2, memperlihatkan polisi anti-huru-hara memukuli dan menentang pengunjuk-rasa di luar kompleks Tempat Suci tersebut.

Satu pernyataan polisi mengatakan satu orang ditangkap karena membuat kerusuhan.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, Tindakan Israel itu, termasuk pemasangan CCTV yang mencakup seluruh kompleks tersebut, pos pemeriksa keamanan dan alat pendeteksi logam di semua pintu masuk, dipasang lantaran setelah adanya tiga pemuda Palestina dengan kewarganegaraan Israel menembak-mati dua polisi Yahudi pada Jumat pagi.

Pria bersenjata itu, semuanya dari Kota Arab Umm Al-Fahm di Israel Tengah, selanjutnya ditembak dan meninggal oleh polisi.

Tak lama setelah peristiwa tersebut, Israel menutup kompleks masjidil Aqsa, dan menyatakan pasukan keamanan perlu memeriksa tempat tersebut untuk mencari gerilyawan lain atau amunisi.

Itu adalah untuk pertama kalinya dalam 50 tahun Israel menutup kompleks itu, tempat suci ketiga umat Muslim.

Pada Ahad, Israel membuka kembali tempat suci tersebut tapi mengharuskan semua pelancong untuk menjalani pemeriksaan keamanan melalui alat pendeteksi logam yang dipasang di dua pintu masuk. Hanya warga Muslim dari Jerusalem yang diperkenankan masuk.

Sebagaimana dilaporkan media setempat, polisi mengatakan mereka berencana secara bertahap membuka pintu masuk tambahan, setelah memasang detektor logam.

Waqaf, lembaga agama Islam yang mengelola kompleks itu, menolak tindakan baru tersebut dan menolak untuk menunaikan shalat di masjid itu. Lembaga Waqaf menyatakan tindakan tersebut adalah pelanggaran terhadap status quo.

Omar Kiswani, Direktur Masjid Al-Aqsha, mengatakan kepada wartawan di luar lokasi itu bahwa “penutupan tersebut, pendudukan, dan pencegahan warga mengumandangkan azan adalah tidak adil dan merupakan pelanggaran terhadap resoluasi PBB serta kesepakatan internasional”.

“Kami menganggap pemerintah Yahudi bertanggung-jawab atas perubahan yang telah mereka buat di Masjid Al-Aqsha dan merampas wewenang kami atas Masjid itu,” ujar Omar.

Puluhan orang yang akan beribadah berdiri di luar Pintu Gerbang Domba di Kota Tua Jerusalem dan melaksanakan shalat di tempat terbuka sebagai protes atas tindakan baru tersebut. Sebagian perempuan menangis dan berteriak bahwa Al-Aqsha berada dalam bahaya, sementara yang lain berteriak “dengan semangat kami, kami akan membebaskanmu Al-Aqsha!” Israel merebut Jerusalem Timur, tempat Masjid Al-Aqsha berada, bersama dengan bagian lain Tepi Barat Sungai Jordan dan Jalur Gaza selama Perang Timur Tengah 1967. Israel selanjutnya mencaplok Jerusalem Timur, dan mengakuinya sebagai bagian dari “ibu kotanya yang abadi dan tak terpisahkan” yang mana dalam tindakan tersebut tak pernah diakui oleh masyarakat internasional. (HA)

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama