BEIRUT/JAKARTA, SERUJI.CO.ID – Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Minggu (29/3/2026) memerintahkan perluasan invasi darat di Lebanon Selatan. Dalam hitungan jam setelah perintah itu dikeluarkan, tiga prajurit TNI Indonesia yang bertugas bersama UNIFIL gugur dari dua lokasi terpisah di kawasan yang sama. Israel Defence Forces (IDF) mengakui sedang meninjau apakah kedua insiden tersebut merupakan akibat dari aktivitas militernya.
Perintah Netanyahu dan Koneksi Geografisnya
Dalam pernyataan video dari Komando Utara Israel, Netanyahu menyatakan akan memperluas zona penyangga keamanan di Lebanon Selatan dengan mendorong garis invasi mendekati Sungai Litani, sekitar 30 kilometer dari perbatasan Israel.
Menteri Pertahanan Israel Katz mempertegas: pasukan Israel akan “mengendalikan jembatan-jembatan yang tersisa dan zona keamanan hingga ke Litani.”
Adchit Al Qusayr dan Bani Hayyan, dua lokasi insiden yang merenggut tiga nyawa prajurit Indonesia dalam 24 jam, keduanya berada di distrik Marjayoun, tepat di jalur ekspansi yang dideklarasikan Netanyahu. Kedua titik itu hanya berjarak sekitar tiga kilometer satu sama lain, dan keduanya berada di dalam wilayah operasional Indobatt UNIFIL yang kini berada di tengah zona tempur aktif.
IDF: “Sedang Meninjau”
Merespons dua insiden yang merenggut nyawa prajurit UNIFIL, IDF mengeluarkan pernyataan bahwa pihaknya sedang meninjau kedua kejadian untuk menentukan apakah korban jiwa berasal dari aktivitas IDF atau Hizbullah.
Pernyataan serupa pernah dikeluarkan IDF pada 6 Maret 2026 ketika dua prajurit Ghana dari UNIFIL luka parah akibat tembakan tank. Beberapa hari kemudian, IDF mengakui tanknya mengenai posisi UNIFIL, dengan alasan pasukan mereka sedang merespons tembakan anti-tank Hizbullah dari arah yang sama.
Analisis: Dua Lokasi, Satu Konteks Operasi
Meski investigasi UNIFIL belum selesai dan belum ada penetapan resmi asal proyektil, sejumlah fakta membentuk konteks yang sulit diabaikan. Pertama, Netanyahu mengumumkan perluasan invasi tepat pada hari insiden pertama terjadi. Kedua, kedua lokasi insiden berada di dalam jalur ekspansi militer IDF menuju Litani. Ketiga, pola pernyataan IDF, “sedang meninjau”, identik dengan insiden Ghana yang akhirnya terbukti akibat tembakan tank Israel.
UNIFIL sendiri menegaskan dalam pernyataan resminya bahwa serangan yang disengaja terhadap pasukan penjaga perdamaian merupakan pelanggaran berat hukum humaniter internasional dan Resolusi DK PBB 1701, yang dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang. Anggota Komisi I DPR Yulius secara tegas menyatakan: “Ini kejahatan perang.”
Latar Belakang
Konflik terbaru di Lebanon bermula pada 2 Maret 2026 ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel menyusul operasi gabungan AS-Israel di Iran. Israel merespons dengan operasi darat dan udara masif di Lebanon Selatan. Sejak saat itu, lebih dari 1.240 warga Lebanon dilaporkan tewas.
Indonesia merupakan salah satu kontributor terbesar UNIFIL dengan lebih dari seribu prajurit Kontingen Garuda yang bertugas di kawasan konflik tersebut. Tiga prajurit yang gugur pada 29–30 Maret 2026 adalah korban jiwa Indonesia pertama dalam babak terbaru konflik ini.
Disclaimer: Pernyataan Netanyahu dikutip dari Al Jazeera dan Reuters. Pernyataan IDF dikutip dari CNN. Pernyataan UNIFIL soal kejahatan perang dikutip dari situs resmi UN Peace Operations. Investigasi resmi masih berlangsung per 31 Maret 2026 pagi WIB.

