Terdakwa Suap Pajak Pernah Bawa Rp 1,5 Milyar ke Solo

JAKARTA – Yuli Kanestren, Manajer Finansial PT EKP, saksi dalam kasus suap di Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan menyampaikan bahwa ia memberikan uang sebesar Rp 1,5 Milyar kepada bosnya, Ramapanicker Rajamohanan, yang kemudian dibawa ke Solo.

“Iya. Saya kasih uangnya ke Pak Mohan (terdakwa), terus Bapak berangkat ke Solo. Uangnya dalam bentuk rupiah, cash, melalui pesawat,” terang Yuli di Ruang Sidang Koesoemah Atmadja II, Pengadilan Tipikor, Jakarta Pusat, Senin (6/3).

Fakta ini terungkap setelah jaksa penuntut umum membacakan BAP Yuli terkait peminjaman rekening bank Yuli dan Chief Accounting PT EKP Siswanto oleh terdakwa. Dalam BAP, terdakwa yang akrab disapa Mohan ini numpang transfer uang senilai Rp 1,5 miliar.

Dari keterangan kedua saksi didepan persidangan, tujuan terdakwa membawa uang tersebut ke Solo belum dapat diungkap Jaksa, karena baik Yuli maupun Siswanto mengaku tidak tahu untuk apa uang tersebut dibawa ke Solo dan diserahkan pada siapa.

Kasus suap ini selain telah mendudukkan Mohan sebagai terdakwa, juga menyebut-nyebut nama adik ipar Presiden Jokowi, Arif Budi Sulistyo yang berperan dalam mempertemukan Mohan dengan pejabat Ditjen Pajak.

Perkara korupsi ini bermula saat Rajamohanan diduga menyuap terdakwa Handang Soekarno, Kasubdit Bukti Permulaan Direktorat Penegakan Hukum Ditjen Pajak Kementerian Keuangan nonaktif, sebesar USD 148.500 atau Rp 1,9 miliar. Mohan disebut menjanjikan Rp 6 miliar kepada Handang untuk memuluskan beberapa masalah pajak perusahaannya.

EDITOR: Harun S

2 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

Dari Plot Pembunuhan Menuju Monarkhi Konstitusional di Arab Saudia

Aneka media luar dan dalam negeri dengan telanjang menggambarkannya. Tim 15 orang memutilasi, memotong korban ketika korban masih hidup. Suara melengking korban kesakitan yang luar biasa terdengar dan terekam.

Gus Ipul Mentransformasi Kota Pasuruan Menuju Smart City

Pemerintah cerdas adalah pemerintah yang mampu menggunakan teknologi untuk melayani masyarakat secara lebih cepat, lebih murah sekaligus lebih terukur. Dinamika perkembangan teknologi juga berpengaruh terhadap kebutuhan dan harapan masyarakat terhadap pelayanan.

E-Sambat, Cara Gus Ipul Manfaatkan Teknologi Digital untuk Layani Warga Kota Pasuruan

Program Smart City atau Kota Cerdas membuat kerja pemerintah menjadi lebih efisien, termasuk dengan cepat dapat merespon berbagai keluhan masyarakat. Seperti yang dilakukan Pemerintah Kota Pasuruan dengan aplikasi e-Sambat.

Smart City di Surabaya Bukan Sekadar Urusan Aplikasi

Ada enam faktor pendukung terciptanya smart city di Kota Surabaya, Jawa Timur. Program ini bukan sekadar urusan aplikasi, namun juga untuk memberdayakan UMKM.

Terinspirasi Jack Ma, Khofifah Dorong UMKM Masuk ke Dunia Digital

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sejak awal berupaya agar usaha mikro kecil menengah diberikan peluang melalui digitalisasi sistem. Ia terinspirasi Jack Ma, pemilik Alibaba Group, perusahaan e-commerce terbesar di Tiongkok.

Ketum AMSI: Kebutuhan Publik Zaman Now Bukan Hanya Hard News

Media massa digital atau dalam jaringan sudah harus mulai meninggalkan pola pikir konservatif dan konvensional. Masyarakat tak hanya butuh berita keras (hard news), tapi juga informasi keseharian.

Target Pemerintah: 6,1 Juta UMKM On Boarding Setiap Tahun

Usaha mikro kecil menengah di daerah membutuhkan teknologi digital untuk berkembang di era pandemi.

TERPOPULER

Tiga Budaya Sunda yang Unik, Nomer 1 Sudah Jarang Ditemukan

Semua tradisi dan budaya di Indonesia unik dan mempunyai ciri khas tersendiri. Tak ketinggalan juga budaya Sunda dan segala tradisi yang dijalankan.