Ancaman Perang Paregreg Pada Pilgub Jatim 2018

1
167
Pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W. Oetomo dalam diskusi "Perang Paregreg di Pilgub Jatim".

SURABAYA, SERUJI.CO.ID – Dua kader terbaik NU, Saifullah Yusuf alias Gus Ipul dan Khofifah Indar Parawansa, hampir bisa dipastikan bakal berhadapan dalam gelaran Pilgub Jatim 2018. Kondisi demikian, NU dihadapkan dengan NU, bisa dipandang hampir sama dengan kondisi Perang Paregreg yang terjadi era Majapahit.

Pada Perang Paregreg, disuguhkan perseteruan antara Bhre Wirabumi melawan Kusumawardhani/Wikrama Wardhana. Perang antar sesama anak kandung Hayam Wuruk tersebut, pada akhirnya justru membawa kemunduran bagi kekuasaan Kerajaan Majaphit.

Sementara, pada Pilgub Jatim 2018, beberapa waktu lalu publik disuguhi perang statemen antara Cak Imin dan Khofifah yang notabene sesama NU. Baku kritik antara Kyai Mutawakil dipihak Gus Ipul dan Kyai Asep di pihak Khofifah, dan perang ujaran antara Prof A’la dan Kyai Muhklis.

Loading...

Serta haru biru perang ujaran antara forum Kiai Kampung dan Kiai pendukung Khofifah juga dengan mudah ditemukan di berbagai media. Perang tersebut, menurut para pengamat politik, justru dapat membawa kemunduran bagi Jawa Timur ke depannya.

Pengamat politik asal Universitas Trunojoyo Madura Mochtar W. Oetomo memaparkan bahwa perang statement antara para Kiai dan antar pendukung tersebut adalah pemicu dari kemunduran Jawa Timur. Terlebih lagi, jika hal tersebut berkepanjangan dan tidak dikelola dengan dewasa.

“Bisa saja dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu hingga bisa memicu Perang Paregreg di Pilgub nanti. Perang sesama anak kandung NU,” ungkap pria yang juga Direktur Surabaya Survey Centre tersebut, Jumat (17/11).

Meski demikian, menurut Mochtar, polarisasi pada Pilgub Jatim bakal kecil kemungkinan menyentuh wilayah SARA.

“Polarisasi yang terjadi mungkin hanya sebatas antara NU struktural dengan NU kultural dalam hal dukungan ke kedua kandidat. Tetapi, jika perang ujaran itu berlarut bisa saja pertentangan itu akan melebar ke polarisasi antar wilayah, antar banom NU, antar pondok dan Kiai, yang pada gilirannya akan melebar ke santri sebagai akar rumput pendukung. Jika sudah begini potensi konflik horizantal bisa semakin memuncak,” tegasnya.

(Setya/Hrn)

loading...

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

TERBARU