NIRO Melesat 34,74% Jadi Top Gainer BEI, Saham Pengelola Mal Ini Menyimpan Kejutan Besar! 🚀🏬

💰 Fundamental Keuangan NIRO (FY2025 — Terbaru)

Data keuangan terbaru NIRO adalah laporan keuangan tahunan penuh (FY2025) yang dirilis April 2026. Hasilnya masih menantang: NIRO membukukan rugi bersih Rp200,1 miliar pada tahun buku 2025, melebar dari rugi Rp194,7 miliar di FY2024.

Meski demikian, sisi positifnya adalah pendapatan tahunan yang cukup besar, melampaui Rp1,3 triliun, mencerminkan aset dan portofolio mal yang aktif beroperasi. Total aset NIRO tercatat sekitar Rp14,4 triliun berdasarkan data kuartal terakhir.

Indikator Keuangan FY2025 FY2024 FY2023
Pendapatan (Rp miliar) ~1.310 1.310 ~1.150
Rugi Bersih (Rp miliar) (200,1) (194,7) (70,3)
Total Aset (Rp miliar) ~14.402 ~14.200
Total Ekuitas (Rp miliar) ~4.995
Total Utang (Rp miliar) ~7.959
EBITDA Margin 30,72%
Dividen Tidak ada Tidak ada Tidak ada

Angka utang Rp7,96 triliun dengan ekuitas Rp4,99 triliun menunjukkan DER (Debt-to-Equity Ratio) yang cukup berat sekitar 1,59x, wajar untuk emiten properti berbasis sewa yang membutuhkan pembiayaan besar untuk membangun dan mengelola mal.

EBITDA margin 30,72% sebenarnya cukup sehat untuk segmen retail property, menandakan mal-mal NIRO masih menghasilkan pendapatan sewa yang stabil. Kerugian bersih yang terus membesar dipicu oleh beban bunga, depresiasi aset, dan biaya pemeliharaan yang besar.

📈 Mengapa NIRO Tiba-tiba Melesat 34,74%?

Pertanyaan terbesar yang wajar ditanyakan: apa yang mendorong NIRO melesat 34,74% dalam satu hari, dari kisaran Rp190 ke Rp256? Per 18 April 2026, belum ada keterbukaan informasi material yang dipublikasikan perseroan secara resmi kepada BEI yang secara langsung menjelaskan lonjakan ini.

Namun, ada sejumlah faktor yang mungkin berkontribusi. Sebelumnya, BEI sempat menghentikan sementara perdagangan saham NIRO (suspensi) sebelum kemudian membuka kembali perdagangannya, situasi ini kerap memicu akumulasi tekanan beli yang terpendam saat suspensi dicabut.

Selain itu, kisaran harga NIRO yang rendah dan float publik yang kecil (hanya 9,91%) membuat saham ini rentan terhadap pergerakan dramatis dengan modal yang relatif kecil.

Faktor lain yang perlu dicermati adalah rilis laporan keuangan FY2025 pada April 2026. Meski masih merugi, NIRO membukukan pendapatan semester pertama 2025 sebesar Rp727,6 miliar, naik signifikan dari periode sebelumnya, yang mungkin dibaca pasar sebagai sinyal pemulihan operasional.

Sentimen positif sektor properti di tengah ekspektasi penurunan suku bunga juga turut mendorong minat investor pada saham-saham properti berkapitalisasi kecil seperti NIRO. Perlu diingat, lonjakan ekstrem pada saham berlikuiditas rendah seperti ini sangat sering bersifat spekulatif dan tidak mencerminkan perubahan fundamental yang mendasar.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER