Impor LNG Belum Tentu Turunkan Harga Gas Domestik

23
Kapal pengangkut LNG. Indonesia masih membutuhkan pasokan LNG dan dipenuhi melalui impor.

JAKARTA –  Impor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) tidak otomatis akan menurunkan harga gas di dalam negeri. Pasalnya, banyak elemen yang membentuk harga gas ketika tiba di Tanah Air, meskipun harga beli dari luar negeri jauh dibawah harga pasaran domestik.

Kepala Divisi Komersialisasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas (SKK Migas) Sampe L. Purba dalam diskusi di Jakarta, Kamis (16/2) mengatakan, ada beberapa komponen pembentuk gas yang masing-masing komponen memiliki biaya sendiri. Alhasil harga gas impor nantinya belum pasti dapat lebih rendah dibanding harga gas yang ada di dalam negeri

Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), menyebutkan rata-rata biaya yang harus dikeluarkan sebelum LNG sampai ke end user adalah USD 0,89 untuk tarif transmisi, untuk distribusi USD 1,5 dan regasifikasi USD 1-3 serta ditambah biaya shipping USD 0,8.

Sampe menjelaskan, setidaknya dua faktor utama penyebab impor LNG belum tentu dapat dinikmati dengan harga murah pada konsumen akhir (end user). Faktor pertama, harga LNG bersifat fluktuatif dan tergantung pada  harga minyak dunia.

Faktor kedua, proses LNG hingga sampai ke konsumen akhir harus melalui beberapa tahapan,  seperti tahap pengapalan, regasifikasi, hingga pipa transmisi. Setiap proses itu memiliki komponen biaya. ”Saya katakan tidak serta-merta impor LNG akan membuat  harga turun di level pembeli akhir,” kata Sampe.

Menurut Sampe harga gas di hulu dalam negeri sebenarnya sudah efisien. Secara rata-rata, harga gas di Indonesia sekitar USD 8 per mmbtu. Harga itu bahkan sudah dapat ditekan lagi menjadi USD 6 per mmbtu, sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 40 tahun 2016.

Namun, kendalanya ketika di sektor hulu sudah efisien, harga gas di konsumen akhir masih tinggi lantaran ada tambahan seperti biaya regasifikasi dan tranmisi. Komponen ini yang membuat harga gas menjadi mahal sampai pembeli akhir. Apalagi ada pihak perantara (trader) dalam jual beli gas. “Komponen trader gas ini kan bukan di wilayah kita,” kata dia.

Di sisi lain, pemanfaatan gas dalam negeri juga masih rendah karena minimnya infrastruktur. Saat ini baru ada empat infrastuktur LNG  domestik yang sudah beroperasi dan terhubung kepada penggunanya seperti fasilitas regasifikasi Arun, FSRU Lampung, Nusantara regas, dan mini LNG Teluk Benoa.

Masalah lainnya dalam industri gas adalah rendahnya penyerapan gas dalam negeri oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN). Menurut Sampe, faktor penghambat penyerapan gas bumi domestik adalah ketidakpastian PLN membeli gas dan cenderung mencari pasokan gas dari impor sesuai dengan nilai keekonomiannya.

EDITOR: Rizky

loading...

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama