Ahli Racun se-ASEAN Berkumpul di Yogyakarta, Apa Yang Dibahas?

0
33
  • 4
    Shares
Ular Berbisa.

YOGYAKARTA, SERUJI.CO.ID – Puluhan ahli racun dan tenaga medis dari negara-negara anggota ASEAN pada Selasa (23/10) berkumpul di Yogyakarta untuk membahas standar penanganan penyakit akibat gigitan ular dan hewan-hewan laut berbisa.

“Para medis, dokter maupun para ahli farmasi dari berbagai negara saling bertukar pengalaman penanganan awal penyakit akibat gigitan ular yang benar,” kata Presiden Toxinology Society of Indonesia dr Tri Maharani di sela acara yang merupakan bagian dari The 5th International Symposium on ASEAN Marine Animals and Snake Environment Envenoming Management (AMSEM) 2018 yang berlangsung di Yogyakarta hingga 26 Oktober.

Tri mengatakan selama puluhan tahun gigitan ular dan hewan-hewan laut berbisa menjadi masalah yang terabaikan di Indonesia. Padahal penyakit akibat gigitan ular merupakan salah satu penyakit yang paling banyak mengakibatkan kematian.

Loading...

“Jutaan korban terpaksa harus meninggal karena masyarakat tidak paham penanganan awal dan pengobatan yang tidak ada,” kata dokter spesialis biomedik itu.

Sebagai negara agraris dengan garis pantai terpanjang se-Asia Tenggara, menurut Tri, gigitan ular termasuk salah satu masalah kompleks di Indonesia. Ia menambahkan bahwa kerusakan ekosistem juga berkontribusi pada peningkatan kasus gigitan hewan-hewan berbisa pada manusia.

Data Remote Envenomation Consultant Service (RECS) pada 2017 menunjukkan kasus penyakit akibat gigitan ular jumlahnya sampai 135.000 kasus per tahun, di atas kasus kanker yang jumlahnya tercatat 133.000 per tahun.

“Sehingga kasus gigitan ular ini sebenarnya merupakan salah satu dari 10 penyakit terbanyak di Indonesia namun selama ini cenderung diabaikan,” kata Tri, Koordinator RECS Indonesia.

Ia menjelaskan pula bahwa di sela rangkaian simposium internasional itu Toxinology Society of Indonesia dan Malaysian Society on Toxinology akan menandatangani nota kesepahaman kerja sama dalam hal edukasi, pelatihan dan riset penanganan dampak gigitan ular dan hewan berbisa.

“Kerja sama kedua pihak menyangkut edukasi, pelatihan, dan riset mengenai penanganan dampak gigitan ular dan hewan berbisa lainnya. Kami berharap semakin banyak negara-negara yang berkolaborasi dalam penanganan ini,” tukasnya. (Ant/SU01)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

BERITA PILIHAN

TERBARU