KABUL, SERUJI.CO.ID – Presiden Afghanistan Ashraf Ghani, Sabtu (3/2), membuka peluang untuk melakukan pembicaraan dengan petempur, yang menerima perdamaian, namun mengatakan bahwa pintu itu tertutup bagi yang menyebabkan tragedi, seperti, serangan baru-baru ini di ibu kota, Kabul.
Serangan di hotel Intercontinental di Kabul pada 20 Januari dan bom bunuh diri di jalan ramai seminggu kemudian memicu kemarahan umum dan meningkatkan tekanan pada pemerintah, yang didukung Ghani untuk memperbaiki keamanan.
Serangan tersebut, yang menewaskan lebih dari 130 orang dan didaku Taliban, juga menimbulkan keraguan baru tentang usaha lama untuk memulai pembicaraan dengan pemberontak.
Kantor presiden mengatakan pada Selasa (30/1) bahwa petempur melewati “garis merah” dan perdamaian harus direbut di medan perang.
Namun, Ghani mengangkat kemungkinan rekonsiliasi dengan beberapa militan dalam sebuah pidato kepada ulama Islam di Kabul.
“Mereka yang bertanggung jawab atas tragedi ini dan tidak menginginkan perdamaian, pintu perdamaian tertutup bagi mereka,” kata Ghani.
“Mereka yang menerima kedamaian, mereka akan menyaksikan bahwa bangsa akan memeluk mereka. Tapi ada perbedaan yang jelas, komitmen kita untuk membawa perdamaian tidak berarti kita akan duduk diam dan tidak akan melakukan pembalasan,” katanya,
“Kami akan menggali mereka dari lubang persembunyian.”
Pemerintah Afghanistan telah membuat sumpah semacam itu selama bertahun-tahun tapi pemberontakan nampak semakin bertahan. Upaya perdamaian telah dilakukan dan dimulai tapi tanpa kemajuan. (Ant/SU03)
