Hanif mengatakan setidaknya ada dua persoalan ketenagakerjaan yang dihadapi Indonesia saat ini. Persoalan pertama adalah apa yang disebut sebagai mismatch dan underqualified worker, yaitu mereka yang bekerja tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki atau pekerja yang memiliki kualitas kompetensi di bawah standar yang dituntut dari pekerjaannya.
“Inilah mengapa lulusan perguruan tinggi pun banyak jadi pengangguran, karena maunya kerja bagus, gaji bagus, tapi ternyata kompetensi mereka kurang,” kata Hanif.
Menurut dia, di tengah kondisi saat ini, upaya yang dapat dilakukan untuk segera meningkatkan kualitas tenaga kerja adalah melalui pendidikan vokasi baik berupa sekolah lanjutan atau berbagai bentuk pelatihan.
“Saya percaya Indonesia memiliki potensi yang besar kalau pemerintah, industri, dan institusi pendidikan bisa bekerja sama,” pungkasnya. (Ant/SU02)

Bagaimana bisa menciptakan SDM yg mumpuni, pendidikan di buat lahan bisnis, pak menteri oh pak menteri.