Aksi Preman, Jualan Ayam, dan Judi di KA Rangkasbitung-Jakarta Kini Menghilang

RANGKASBITUNG, SERUJI.CO.ID – Sejak diterapkannya penggunaan commuter line di jalur kereta Rangkasbitung-Jakarta, aksi preman, jawara, jualan ternak ayam dan praktek perjudian di atas kereta yang pernah merajalela, kini menghilang.

Kereta jalur Jakarta-Banten (Rangkasbitung sampai Merak) kini populer dengan sebutan ‘kereta menak’ atau kereta orang kaya. Pasalnya, kereta di jalur ini sudab berubah menjadi jalur transportasi yang sangat lancar, menyenangkan, aman, nyaman dan bersih.

Seluruh rangkaian keretanya — bisa sampai 12 gerbong, dilengkapi AC televisi layar datar dan bebas Wifi.

“Kereta Preman” Tinggal Jadi Kenangan Masa Lalu

Kondisi KA Rangkasbitung-Jakarta masa lalu. (foto:istimewa)

Sebelumnya, seperti dituturkan Kepala Stasiun Besar Rangkasbitung, Endarno kepada SERUJI di Rangkasbitung, kemarin, kereta Rangkasbitung-Jakarta terbilang rawan keamanan dan sarang copet. Makanya sering pula disebut ‘kereta preman’.

Betapa tidak, hampir setiap hari petugas polisi khusus kereta api (Polsuska) mendapatkan persoalan rumit, karena banyaknya penumpang tidak berkarcis dan marah-marah jika ditagih karcisnya. Belum lagi kerap membandelnya para pedagang –termasuk pedagang ternak ayam, yang protes jika dilarang jualan di atas kereta.

“Rumit, memang. Bisa begitu, antara lain karena masih terbukanya areal stasiun sehingga tidak ada pembatas antara kawasan pemukiman dan stasiun,” jelas Endarno.

Akibatnya, imbuhnya, tiap hari banyak ditemukan penumpang tak berkarcis di dalam areal stasiun. Aktivitas pedagang makanan dan minuman juga susah ditertibkan.

“Dan, itu berlangsung tiap hari, bertahun-tahun,” ujarnya.

Parahnya lagi, banyak penumpang suka memilih duduk santai di atap gerbong, padahal risikonya bahaya. Ada juga yang suka berdiri di lokomotif dan di ruang masinis.

Sementara di dalam gerbong, Polsuska sering mendapati penumpang berjudi dan banyak preman. Jika ditanya mana karcisnya, mereka diam saja. Jika akan didenda bayar dobel karena naik kereta tanpa karcis, enteng saja mereka memelototi petugas sambil memamerkan tatto di tubuhnya. Kalau sudah begitu, sang kondektur dan Polsuska cari aman saja, langsung pergi mengecek karcis penumpang lainnya.

“Sering terjadi Polsuska dan kondektur kereta babak belur dianiaya penumpang tak berkarcis. Biasanya, penganiayaan dilakukan hanya gara-gara tersinggung ditegur kasar saat berjudi, atau diturunkan di stasiun terdekat karena tak berkarcis,” ujar beberapa karyawan stasiun Rangkasbitung yang ditemui SERUJI.

Kini, Kereta Rangkasbitung-Jakarta Nyaman dengan Frekwensi 16 Kali Sehari

Suasana di dalam gerbong commuter line Rangkasbitung-Jakarta, penumpang tertib. Ruangan sejuk dilengkapi televisi dan bebas jaringan wifi. (Istimewa)

Tapi, itu dulu, saat kereta Langsam, Pattas dan KRD (Kereta Rel Diesel) masih diandalkan.

Sekarang, lanjut Endarno, sudah berubah 100 persen. Seluruh areal stasiun kini dipagar, petugas keamanan ditambah baik untuk tugas di areal stasiun maupun di atas kereta. Juga diberlakukan aturan hanya penumpang berkarcis yang boleh masuk stasiun.

Di dalam stasiun, selain gerai resmi, tidak boleh ada angkringan untuk jualan makanan dan minunan seperti sebelumnya.

Dan yang lebih membanggakan, lanjut Endarmo, frekwensi lalu lintas kereta dari dan ke Rangkasbiting-Jakarta ditambah hingga menjadi 16 kali perjalanan setiap hari. Begitu juga dari dan ke Rangkasbitung-Merak ditambah dari 6 kali menjadi 12 kali perjalanan setiap hari.

Perjalanan pertama dari Rangkasbitung ke Jakarta dimulai pukul 04.00 WIB dan terakhir jam 20.40 WIB. Sedangkan dari Jakarta ke Rangkasbitung terakhir jam 21.45 WIB.

Dengan semua pelayanan itu, beberapa petugas keamanan stasiun Rangkasbitung meyakinkan jika kereta Rangkasbitung-Jakarta sekarang aman dan lancar. Petugas keamanan menjalankan fungsinya secara bergantian sehingga tidak akan ada lagi oknum oknum preman berada di areal stasiun.

Pengguna KA Rangkasbitung-Jakarta Melonjak Hingga 3 Kali Lipat

KA Rangkasbitung-Jakarta
Stasiun Kereta Rangkasbitung selalu dipenuhi dipenuhi penumpang. (Istimewa)

Dampaknya, luar biasa. Jumlah penumpang yang memanfaatkan pelayanan kereta di jalur ini melonjak signifikan. Jika sebelumnya maksimal sekitar 10 ribu penumpang ke arah Jakarta dilayani tiap hari, kini mencapai lebih dari 30 ribu orang. Pada hari libur membengkak, bisa 40 ribu. Begitu juga saat Idul Fitri, lonjakan penumpang terlihat di dalam gerbong. Penumpang penuh sesak.

Kebanyakan penumpang kereta di jalur Rangkasbitung-Jakarta adalah pegawai negeri, swasta dan pelajar-mahasiswa di berbagai kantor dan lembaga pendidikan di Jakarta. Itu sebabnya, jam-jam padat penumpang selalu dimulai pukul 4 sampai 7 pagi. Lalu pukul 16.00 sampai pukul 20.00 WIB.

“Dengan tarif karcis Rp8.000 sekali jalan dan hanya 2 jam waktu tempuh Rangkasbitung-Tanah Abang (Jakarta Pusat) membuat kami memilih angkutan kereta ketimbang naik bis yang harus melalui beberapa jalur macet dan badan lelah sampai tujuan,” komentar Nana Suprianto, karyawan kantor DPRD DKI Jakarta yang tinggal di Rangkasbitung, kepada SERUJI.

Lastri Mufrikah, dosen Universitas Sahid Jakarta yang tinggal di Komplek Pemda Rangkasbitung juga merasa nyaman tiap hari naik commuter line.

“Berangkat jam 7 pagi dari rumah, jam 9 udah nyampe kampus. Udah sempat tidur satu jam lebih di kereta, tadi,” ujar Lastri saat diwawancarai SERUJI di stasiun Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Pantaslah kalau begitu, transportasi kereta Rangkasbitung-Jakarta laris manis.

Ingin mengabarkan peristiwa atau menulis opini? Silahkan tulis di kanal WARGA SERUJI dengan klik link ini

TINGGALKAN KOMENTAR

Silahkan isi komentar anda
Silahkan masukan nama

ARTIKEL TERBARU

BERITA TERBARU

TERPOPULER