
Akhirnya tahun 2014, lanjut pria yang kerap disapa Arief ini, ITS juga berhasil membuat prototype hasil pengembangan mesin cetak Braille dari Norwegia tersebut menjadi lebih baik lagi dalam beberapa fiturnya. Ini juga merupakan mesin cetak Braille karya anak bangsa Indonesia yang pertama ada. Karena di Indonesia, sampai saat ini tidak ada perusahaan manufaktur mesin cetak Braille.
“Tahun 2015, ITS berhasil mendistribusikan tiga prototype mesin ini ke SLB di Jayapura, Ambon, dan Pangkal Pinang,” paparnya.
Saat ini, kata Arief, ITS telah diamanahi oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemristekdikti) dalam Program Pengembangan Teknologi Industri (PPTI) dan Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus (PKLK) Dikdasmen Kemdikbud untuk membuatkan masing-masing satu prototipe dengan bantuan dana Rp 390 juta per mesin. Selain bertugas untuk membuat prototipe, ITS pun memperbaiki mesin dari Norwegia tersebut.
“Prototipe mesin cetak Braille karya tim kami ini telah mencapai TKT 7 (Tingkat Kesiapterapan Teknologi 7), sehingga sudah siap untuk hilirisasi ke industry,” ujar mantan Ketua Jurusan Teknik Elektro ITS ini.
Dalam hal ini, Arief menandaskan bahwa mesin ini sudah berskala industri dan siap untuk diproduksi secara massal. Melalui Corporate Social Responsibility (CSR), diharapkan Braille Embossers ini dapat diproduksi dan dipasarkan ke masyarakat.
Mesin cetak Braille karya ITS ini dirancang dengan komponen suku cadang 85 persen produk Indonesia. Sehingga harga diharapkan lebih terjangkau meski tidak untuk ukuran personal, mudah dioperasikan dan dirawat serta kompatibel dengan sistem operasi komputer modern.
